Materi TKA SMP/MTs: Bahasa Indonesia dan Matematika, Kompetensi, Bentuk dan Contoh Soal
Apa saja yang benar-benar diukur dalam TKA SMP/MTs? Panduan ini membedah kerangka asesmen resmi Bahasa Indonesia dan Matematika: karakteristik bacaan, kompetensi, bilangan real, aljabar, geometri, data dan peluang, level kognitif, bentuk soal, contoh soal orisinal, serta strategi belajar yang selaras dengan tuntutan TKA.
Artikel ini menerjemahkan kerangka resmi TKA ke dalam panduan belajar operasional untuk murid kelas akhir SMP/MTs, guru, sekolah/madrasah, dan orang tua. Fokusnya bukan memprediksi soal, melainkan membantu pembaca memahami batas materi, perubahan tuntutan dari SD/MI ke SMP/MTs, pola penalaran, serta sumber kesalahan yang perlu diperbaiki.
Rujukan resmi BSKAP/Pusmendik + verifikasi kanal TKA + sintesis pembelajaran Hosch.id. Contoh soal pada artikel ini disusun orisinal untuk latihan dan bukan soal resmi pemerintah.
- Murid kelas akhir SMP/MTs: untuk melihat hubungan antara konsep, representasi, bukti, dan penalaran tanpa bergantung pada tebakan “materi yang pasti keluar”.
- Guru Bahasa Indonesia/Matematika: untuk memisahkan kesalahan konsep dari kesalahan membaca, pemodelan, representasi, atau justifikasi.
- Orang tua: untuk mendampingi ritme belajar remaja tanpa mengubah setiap sesi menjadi latihan tes berulang.
- Sekolah/madrasah: untuk menyusun penguatan berbasis diagnosis dan refleksi, bukan hanya skor paket soal.
1. Dasar Resmi Materi TKA SMP/MTs
Rujukan utama untuk mengetahui materi TKA SMP/MTs adalah Peraturan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 047/H/AN/2025 tentang Kerangka Asesmen Tes Kemampuan Akademik Jenjang SD/MI/Sederajat dan SMP/MTs/Sederajat. Dokumen ini ditetapkan pada 24 Juli 2025 dan memuat empat bagian penting: latar belakang dan tujuan, mata uji dan jenis soal, muatan dan kompetensi yang diujikan, serta contoh soal.
Kerangka tersebut penting karena membedakan antara materi yang berada dalam cakupan TKA dan materi sekolah secara keseluruhan. Tidak semua hal yang pernah dipelajari murid otomatis menjadi muatan TKA. Sebaliknya, materi yang masuk kerangka juga tidak berarti pasti muncul dalam jumlah tertentu. Kerangka berfungsi sebagai batas dan konstruk asesmen, bukan bocoran komposisi soal.
Pusmendik juga menjelaskan bahwa soal TKA dikembangkan dengan mempertimbangkan materi dan kompetensi yang berlaku pada Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013. Artinya, murid tidak mendapat paket berbeda hanya karena kurikulum yang digunakan satuan pendidikannya berbeda.
2. TKA Bukan AN dan Bukan Penentu Kelulusan
TKA dan Asesmen Nasional (AN) perlu dibedakan sejak awal. Kanal resmi TKA Pusmendik menjelaskan bahwa TKA mengukur kompetensi mata pelajaran sesuai kurikulum, bukan literasi dan numerasi umum seperti konstruk pada AN. Walaupun demikian, soal TKA tetap menekankan kemampuan bernalar dan memecahkan masalah.
Kerangka asesmen juga menegaskan bahwa TKA bukan evaluasi untuk menentukan kelulusan murid dari satuan pendidikan. Kelulusan tetap menjadi kewenangan pendidik dan satuan pendidikan. Karena itu, persiapan TKA sebaiknya tidak mengubah pembelajaran menjadi latihan ujian semata.
3. Apa yang Berubah dari SD/MI ke SMP/MTs?
Bahasa Indonesia dan Matematika sama-sama menjadi mata uji pada SD/MI dan SMP/MTs, tetapi kerangka SMP/MTs meningkatkan kompleksitas materi dan proses berpikir. Karena itu, artikel SMP/MTs tidak tepat jika hanya menyalin daftar materi SD/MI lalu menambahkan soal yang lebih sulit.
| Aspek | SD/MI | SMP/MTs |
|---|---|---|
| Bahasa Indonesia | Teks informasi berisi fakta sederhana; teks fiksi dengan struktur yang relatif lebih sederhana. | Teks informasi dapat memuat fakta, konsep, atau prosedur dan dapat berupa teks tunggal maupun jamak; teks fiksi dapat memiliki konflik tunggal/jamak dan alur campuran. |
| Panjang wacana | Dalam kerangka: sekitar 150–200 kata, kecuali puisi. | Dalam kerangka: sekitar 200–250 kata, kecuali puisi. |
| Matematika | Bilangan; geometri dan pengukuran; data. | Bilangan; aljabar; geometri dan pengukuran; data dan peluang. |
| Penalaran | Menghubungkan konsep pada cakupan SD/MI. | Sudah mencakup antara lain bilangan real, SPLDV, fungsi, barisan/deret, Pythagoras, transformasi, ukuran pemusatan data, dan peluang kejadian tunggal. |
Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa strategi belajar SMP/MTs harus memberi ruang lebih besar untuk membaca hubungan antarinformasi, memodelkan masalah, dan menguji alasan. Murid yang hanya terlatih mengerjakan soal rutin dapat kesulitan ketika konteks atau representasi soal berubah.
4. Jenis dan Bentuk Soal TKA SMP/MTs
Perkaban Nomor 047/H/AN/2025 mengenal soal tunggal dan soal grup. Soal tunggal berdiri sendiri. Soal grup menggunakan satu stimulus yang sama untuk beberapa pertanyaan. Dalam Bahasa Indonesia, bentuk grup sangat relevan karena satu teks atau pasangan teks dapat digunakan untuk mengukur beberapa kompetensi membaca.
| Bentuk | Cara menjawab | Risiko kesalahan |
|---|---|---|
| Pilihan Ganda (PG) | Memilih satu jawaban benar. | Murid memilih opsi yang “terlihat familiar” tanpa membuktikannya dari teks atau perhitungan. |
| PGK MCMA | Dapat memiliki lebih dari satu jawaban benar; peserta memilih semua respons yang benar. | Murid berhenti setelah menemukan satu jawaban benar dan tidak memeriksa opsi lain. |
| PGK Kategori | Setiap pernyataan harus diberi kategori, misalnya Benar/Salah atau Sesuai/Tidak Sesuai. | Satu pernyataan dianggap mewakili semua pernyataan, padahal masing-masing harus diuji. |
Buletin Asesmen Pusmendik tentang kerangka TKA SD dan SMP juga menjelaskan bahwa pada pelaksanaan tahun pertama, Matematika menggunakan soal tunggal, sedangkan Bahasa Indonesia memuat soal grup. Informasi teknis semacam ini tetap perlu dibedakan dari cakupan bentuk soal dalam kerangka umum.
5. Materi Bahasa Indonesia TKA SMP/MTs
TKA Bahasa Indonesia SMP/MTs difokuskan pada keterampilan membaca. Fokus ini bukan berarti murid hanya diminta mencari informasi yang tertulis. Kerangka mengukur kemampuan mulai dari memahami informasi eksplisit hingga menarik inferensi, membandingkan informasi, menilai keakuratan, dan merespons unsur teks.
5.1 Teks informasi
Teks informasi dapat berisi fakta, konsep, atau prosedur dari berbagai bidang atau topik dengan skala lokal, nasional, atau global. Kerangka juga membuka penggunaan teks tunggal maupun teks jamak. Artinya, murid dapat diminta membaca dua teks lalu membandingkan isi, sudut penyajian, kelengkapan, atau keakuratan informasi.
5.2 Teks fiksi
Teks fiksi dapat berupa cerita rekaan yang bersifat faktual seperti sejarah/biografi atau realisme. Karakteristiknya dapat meliputi latar konkret maupun abstrak, tokoh berkarakter bulat, konflik tunggal atau jamak dengan penyelesaian tertutup, alur campuran, dan sudut pandang orang ketiga.
5.3 Karakteristik bahasa dan wacana
- kata umum;
- kata berimbuhan/konfiks;
- kata abstrak;
- makna denotatif;
- istilah teknis;
- makna konotatif dalam konteks tertentu.
- sekitar 5–9 kata per kalimat menurut karakteristik kerangka;
- kalimat tunggal dengan berbagai pola;
- kalimat majemuk setara.
- kohesi penyulihan/substitusi;
- konjungsi antarparagraf untuk perbandingan dan penekanan;
- tanda baca mendukung deskripsi.
- sekitar 200–250 kata;
- ketentuan panjang tersebut dikecualikan untuk teks puisi.
6. Kompetensi Bahasa Indonesia yang Diukur
Kerangka mengelompokkan keterampilan membaca menjadi tiga kompetensi besar: pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi.
| Kompetensi | Subkompetensi yang dicakup | Contoh tuntutan berpikir |
|---|---|---|
| Pemahaman Tekstual | Mengidentifikasi istilah; mengenali objek/latar berdasarkan kosakata; menemukan informasi penting tersurat; menyusun kerangka atau bagan dari bagian penting teks. | “Informasi apa yang dinyatakan langsung?” atau “Bagian mana yang tepat ditempatkan pada bagan?” |
| Pemahaman Inferensial | Menyimpulkan ide pokok, gagasan pendukung, tokoh, peristiwa, latar, dan nilai; menjelaskan kelogisan hubungan antarinformasi; memprediksi peristiwa; menjelaskan bahasa kias dan citraan. | “Kesimpulan apa yang paling logis dari dua informasi ini?” |
| Evaluasi & Apresiasi | Menilai relevansi peristiwa dengan kehidupan; menilai kesesuaian/keakuratan unsur, bahasa, atau isi melalui perbandingan dalam/antarteks; menyimpulkan respons emosional terhadap unsur fiksi. | “Teks mana yang lebih mendukung klaim tertentu, dan mengapa?” |
Untuk guru, pembagian ini dapat dipakai sebagai alat sederhana untuk memeriksa kualitas latihan. Jika seluruh latihan hanya menanyakan “siapa, kapan, di mana”, murid hanya berlatih pada sebagian kecil pemahaman tekstual. Latihan perlu bergerak sampai inferensi dan evaluasi.
7. Peta Materi Matematika TKA SMP/MTs
TKA Matematika SMP/MTs mengukur kemampuan memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur matematika serta menerapkannya untuk menyelesaikan masalah. Kerangka resmi membaginya ke dalam empat elemen besar: bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan peluang.
7.1 Bilangan — Bilangan Real
Cakupan bilangan tidak berhenti pada operasi bilangan bulat. Bilangan dalam kerangka mencakup bilangan bulat, rasional dan irasional, bilangan berpangkat bulat, bilangan akar, serta bilangan dalam notasi ilmiah.
- perbandingan dan sifat-sifat bilangan;
- operasi aritmetika pada bilangan;
- estimasi atau perkiraan hasil perhitungan;
- faktorisasi prima bilangan asli;
- rasio: skala, proporsi, dan laju perubahan;
- perbandingan senilai dan berbalik nilai.
7.2 Aljabar
Aljabar menjadi pembeda besar dibanding kerangka SD/MI. Empat submateri utamanya adalah persamaan/pertidaksamaan linier, bentuk aljabar, fungsi, serta barisan dan deret.
| Submateri | Cakupan resmi |
|---|---|
| Persamaan & Pertidaksamaan Linier | Persamaan linear satu variabel, pertidaksamaan linear satu variabel, dan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV). |
| Bentuk Aljabar | Bentuk aljabar dan sifat operasinya, termasuk komutatif, asosiatif, dan distributif. |
| Fungsi | Relasi dan fungsi: domain, kodomain, range, serta penyajiannya. |
| Barisan & Deret | Barisan berhingga bilangan dan deret berhingga bilangan. |
7.3 Geometri dan Pengukuran
Elemen ini memadukan objek geometri, transformasi, dan pengukuran. Murid perlu memahami hubungan bentuk dan ukuran, bukan hanya menghafal rumus.
- hubungan antarsudut dari garis berpotongan dan garis sejajar yang dipotong transversal, termasuk sudut dalam segitiga;
- Teorema Pythagoras;
- kekongruenan dan kesebangunan bangun datar;
- jaring-jaring prisma, tabung, limas, dan kerucut;
- transformasi tunggal: refleksi, translasi, rotasi, dan dilatasi terhadap titik, garis, dan bangun datar pada bidang;
- keliling dan luas bangun datar, termasuk daerah segi banyak, lingkaran, dan gabungannya;
- volume bangun ruang: prisma, limas, dan bola.
7.4 Data dan Peluang
Pada data, murid tidak hanya membaca diagram. Kerangka mencakup proses memperoleh, menyajikan, dan menginterpretasikan data serta menggunakan ukuran pemusatan dan penyebaran.
- perumusan pertanyaan untuk memperoleh data, penyajian, dan interpretasi data;
- penentuan dan penaksiran mean, median, modus, dan jangkauan;
- perbandingan ukuran pemusatan dan penyebaran beberapa kelompok data;
- penyajian melalui diagram batang, diagram garis, diagram lingkaran, dan tabel;
- peluang dan frekuensi relatif dari kejadian tunggal.
8. Tiga Level Kognitif Matematika
Materi saja belum cukup untuk memahami TKA. Soal dapat menggunakan materi yang sama tetapi menuntut proses berpikir yang berbeda. Kerangka menetapkan tiga level kognitif: Pengetahuan dan Pemahaman, Aplikasi, dan Penalaran.
Satu materi dapat muncul pada beberapa level
Contohnya, SPLDV dapat diuji secara prosedural dengan menyelesaikan dua persamaan yang sudah diberikan. Pada level aplikasi, murid mungkin harus membentuk SPLDV dari konteks harga tiket. Pada level penalaran, murid dapat diminta menilai beberapa model atau solusi dan menentukan mana yang konsisten dengan seluruh informasi.
9. Peta Belajar Berdasarkan Kerangka Resmi
Bagian ini adalah sintesis operasional Hosch.id dari kerangka resmi. Ini bukan pembagian bobot soal, melainkan cara mengubah daftar materi menjadi rencana belajar yang lebih terarah.
| Area | Fondasi yang perlu stabil | Latihan tingkat lanjut |
|---|---|---|
| Bahasa Indonesia | Menemukan informasi penting, istilah, objek/latar, struktur informasi. | Membandingkan antarteks, menilai keakuratan, menjelaskan hubungan gagasan, bahasa kias, dan respons emosional. |
| Bilangan | Operasi bilangan real, pangkat/akar, faktorisasi, rasio. | Estimasi, skala/laju perubahan, perbandingan berbalik nilai, pemodelan konteks. |
| Aljabar | Operasi bentuk aljabar, persamaan/pertidaksamaan, SPLDV. | Model dari situasi, fungsi dan representasi, pola barisan/deret, evaluasi solusi. |
| Geometri | Sudut, Pythagoras, kesebangunan, luas/volume. | Bangun gabungan, transformasi, visualisasi jaring-jaring, masalah multilangkah. |
| Data & Peluang | Membaca tabel/diagram, mean-median-modus-range, peluang dasar. | Membandingkan kelompok data, menilai interpretasi, frekuensi relatif dan keputusan berdasarkan data. |
10. Transisi SMP/MTs: dari Prosedur ke Model dan Justifikasi
Bagian ini merupakan sintesis pembelajaran Hosch.id, bukan ketentuan tambahan dari pemerintah. Pada jenjang SMP/MTs, tantangan penting bukan sekadar bertambahnya jumlah materi. Murid mulai lebih sering harus berpindah dari teks atau situasi ke model, representasi, hubungan, dan alasan. Karena itu, latihan yang hanya mengulang prosedur yang sama berisiko membuat murid tampak lancar tetapi rapuh ketika bentuk soal berubah.
Contoh sederhana pada SPLDV: menyelesaikan x + y = 120 dan 12000x + 8000y = 1120000 secara mekanis adalah satu kemampuan. Menentukan bahwa dua persamaan tersebut memang mewakili jumlah tiket dan pendapatan adalah kemampuan lain. Pada TKA, keduanya sama-sama penting karena kerangka menilai penerapan pengetahuan matematika untuk menyelesaikan masalah.
11. Diagnosis Kesalahan Khas SMP/MTs: Jangan Hanya Melihat Skor
Skor latihan hanya memberi tahu berapa banyak jawaban yang benar. Untuk memperbaiki kemampuan, guru dan murid perlu mengetahui mengapa jawaban salah. Pada jenjang SMP/MTs, satu hasil salah dapat berasal dari konsep, membaca stimulus, membentuk model, berpindah representasi, operasi hitung, atau justifikasi yang tidak lengkap.
| Area | Pola kesalahan | Gejala yang terlihat | Tindak lanjut |
|---|---|---|---|
| Teks jamak | Membaca dua teks secara terpisah tanpa membandingkan hubungan. | Murid dapat menjawab fakta tiap teks, tetapi gagal menentukan persamaan, perbedaan, atau fungsi informasi antarteks. | Gunakan tabel dua kolom: klaim Teks 1, klaim Teks 2, lalu hubungan keduanya. |
| Inferensi/evaluasi | Kesimpulan didasarkan pada opini pribadi. | Alasan terdengar masuk akal tetapi tidak dapat ditunjukkan buktinya dalam stimulus. | Wajibkan pola “jawaban → bukti teks → alasan hubungan”. |
| Bilangan/rasio | Konversi satuan atau skala dilewati. | Model awal benar, tetapi hasil akhir berbeda beberapa kali lipat. | Tulis satuan pada setiap tahap dan lakukan estimasi kewajaran sebelum mengunci jawaban. |
| Aljabar/SPLDV | Langsung menghitung sebelum membentuk model. | Eliminasi/substitusi lancar, tetapi persamaan tidak mewakili konteks. | Tetapkan arti variabel dan cek setiap persamaan terhadap kalimat masalah. |
| Fungsi | Menganggap rumus hanya ekspresi untuk dihitung. | Murid dapat substitusi nilai, tetapi bingung menjelaskan arti input, output, domain, atau representasi. | Latih fungsi sebagai hubungan: situasi ↔ rumus ↔ tabel ↔ grafik. |
| Geometri | Memilih rumus dari kata kunci, bukan hubungan bentuk. | Pythagoras, luas, atau volume digunakan tanpa mengecek apa yang sebenarnya dicari. | Gambar ulang situasi dan tandai ukuran yang diketahui/dicari sebelum memilih konsep. |
| Data | Mean, median, modus, dan jangkauan dihitung tanpa interpretasi. | Nilai statistik benar tetapi kesimpulan perbandingan kelompok keliru. | Setelah menghitung, minta murid menjelaskan apa arti angka tersebut terhadap data. |
| Peluang | Frekuensi relatif dibaca sebagai kepastian. | Hasil percobaan dianggap menjamin hasil percobaan berikutnya. | Bedakan hasil pengamatan, frekuensi relatif, dan pernyataan yang benar-benar dapat disimpulkan dari data. |
Catat empat hal setelah latihan: soal apa yang salah → jenis kesalahan → bukti letak kesalahan → satu tindakan perbaikan. Contoh: “SPLDV — salah model — jumlah tiket sudah benar, persamaan pendapatan salah menempatkan harga — latihan berikutnya harus menuliskan arti variabel dan satuan terlebih dahulu.”
Klasifikasi kesalahan dan jurnal di atas adalah sintesis pembelajaran Hosch.id. Fungsinya untuk membantu tindak lanjut belajar; bukan kategori penilaian resmi TKA.
12. Contoh Soal Bahasa Indonesia TKA SMP/MTs
Contoh berikut bukan soal resmi dan bukan bocoran. Seluruh stimulus dan soal dibuat oleh Hosch.id untuk menunjukkan bagaimana kompetensi dalam kerangka dapat dilatih.
Di sejumlah kota, permukaan tanah semakin banyak tertutup beton dan aspal. Ketika hujan turun, air yang seharusnya meresap ke tanah justru mengalir cepat menuju saluran. Jika kapasitas saluran tidak mencukupi, genangan dapat terbentuk dalam waktu singkat. Salah satu cara sederhana untuk membantu penyerapan air adalah membuat lubang resapan biopori di area yang sesuai.
Biopori merupakan lubang vertikal berdiameter relatif kecil yang dibuat pada tanah. Lubang tersebut dapat diisi bahan organik seperti daun kering. Aktivitas organisme tanah membantu membentuk rongga-rongga di sekitar lubang sehingga air lebih mudah masuk ke tanah. Bahan organik yang terurai juga dapat dimanfaatkan sebagai kompos.
Namun, biopori bukan satu-satunya solusi untuk persoalan genangan. Efektivitasnya dipengaruhi kondisi tanah, lokasi, jumlah lubang, dan pemeliharaan. Pada kawasan dengan persoalan drainase yang kompleks, pemerintah dan warga tetap perlu memperbaiki saluran, mempertahankan ruang terbuka, serta mengurangi penutupan tanah yang tidak diperlukan. Karena itu, penggunaan biopori lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari upaya pengelolaan air hujan, bukan pengganti seluruh sistem drainase.
Informasi yang dinyatakan secara langsung dalam teks adalah ...
- biopori selalu mampu mencegah banjir di kawasan perkotaan;
- bahan organik di dalam biopori dapat terurai dan dimanfaatkan sebagai kompos;
- semua saluran drainase dapat digantikan dengan biopori;
- biopori hanya efektif jika dibuat pada permukaan beraspal.
Kesimpulan apa saja yang logis berdasarkan teks? Pilih semua jawaban yang benar.
- Pengelolaan air hujan di kota membutuhkan lebih dari satu pendekatan.
- Semakin banyak permukaan tertutup dapat mengurangi kesempatan air meresap ke tanah.
- Biopori pasti gagal pada semua wilayah dengan drainase kompleks.
- Pemeliharaan dapat memengaruhi manfaat biopori.
Tentukan Benar atau Salah untuk setiap penilaian terhadap isi teks.
| Pernyataan | Jawaban |
|---|---|
| Penulis menyajikan biopori sebagai satu-satunya cara mengatasi genangan. | Salah |
| Paragraf ketiga memberi batasan terhadap klaim manfaat biopori. | Benar |
| Isi teks mendukung pendekatan pengelolaan air yang menggabungkan beberapa tindakan. | Benar |
Contoh teks jamak
Perpustakaan sekolah memperpanjang jam layanan hingga pukul 16.00 agar murid dapat membaca dan mengerjakan tugas setelah pelajaran selesai. Dalam dua bulan pertama, jumlah kunjungan sore meningkat. Pengelola kemudian menambah meja belajar dan memperbaiki pencahayaan.
Survei OSIS menunjukkan sebagian murid belum memanfaatkan layanan sore karena jadwal kegiatan ekstrakurikuler bertepatan dengan jam perpustakaan. Mereka mengusulkan peminjaman mandiri dan layanan pemesanan buku agar akses tidak bergantung pada waktu kunjungan langsung.
Hubungan informasi yang paling tepat antara kedua teks adalah ...
- Teks 2 membantah bahwa perpustakaan pernah memperpanjang jam layanan.
- Teks 1 membahas peningkatan layanan, sedangkan Teks 2 menunjukkan masih ada hambatan akses bagi sebagian murid.
- Kedua teks menyatakan ekstrakurikuler harus dihentikan.
- Teks 1 dan Teks 2 hanya membahas jumlah koleksi buku.
13. Contoh Soal Matematika TKA SMP/MTs
Contoh berikut juga dibuat oleh Hosch.id. Tujuannya bukan memprediksi soal, melainkan memperlihatkan hubungan antara materi, konteks, bentuk soal, dan level kognitif.
Pada peta berskala 1 : 250.000, jarak dua kecamatan adalah 6,4 cm. Berapa jarak sebenarnya?
- 1,6 km
- 6,4 km
- 16 km
- 160 km
Sebuah pertunjukan menjual 120 tiket. Harga tiket dewasa Rp12.000 dan tiket pelajar Rp8.000. Total pendapatan Rp1.120.000. Tentukan Benar atau Salah.
| Pernyataan | Jawaban |
|---|---|
| Jika x = tiket dewasa dan y = tiket pelajar, maka x + y = 120. | Benar |
| Model pendapatan dapat ditulis 12.000x + 8.000y = 1.120.000. | Benar |
| Jumlah tiket dewasa yang terjual adalah 80. | Salah |
Biaya mencetak poster dinyatakan dengan fungsi C(n) = 3.500n + 10.000, dengan n banyak poster. Berapa biaya untuk mencetak 12 poster?
- Rp42.000
- Rp45.500
- Rp52.000
- Rp55.000
Sebuah taman berbentuk persegi panjang memiliki diagonal 13 m dan lebar 5 m. Seluruh permukaan taman akan ditanami rumput. Berapa luas taman?
- 30 m²
- 60 m²
- 65 m²
- 78 m²
Data waktu membaca delapan murid dalam satu hari (menit): 6, 7, 7, 8, 8, 8, 9, 11. Pilih semua pernyataan yang benar.
- Rata-rata data adalah 8.
- Median data adalah 8.
- Modus data adalah 7.
- Jangkauan data adalah 5.
Dalam 50 kali percobaan, sebuah roda warna berhenti pada merah 18 kali, biru 22 kali, dan hijau 10 kali. Tentukan Benar atau Salah.
| Pernyataan | Jawaban |
|---|---|
| Frekuensi relatif merah adalah 0,36. | Benar |
| Frekuensi relatif hijau adalah 0,20. | Benar |
| Berdasarkan hasil percobaan, warna biru memiliki frekuensi relatif paling kecil. | Salah |
Barisan 5, 9, 13, 17, ... berlanjut dengan pola yang sama. Jumlah enam suku pertamanya adalah ...
- 75
- 84
- 90
- 96
14. Strategi Belajar TKA SMP/MTs yang Selaras dengan Kerangka
Persiapan yang efektif tidak identik dengan mengerjakan sebanyak mungkin paket soal. Kerangka resmi menunjukkan bahwa yang diukur adalah gabungan materi dan proses berpikir. Karena itu, latihan perlu dirancang untuk memperbaiki keduanya.
Strategi Bahasa Indonesia
- Latih teks informasi dan fiksi secara bergantian.
- Gunakan teks tunggal dan pasangan teks agar murid terbiasa membandingkan informasi.
- Setelah menjawab, minta murid menunjukkan bagian teks yang menjadi bukti.
- Bedakan pertanyaan tersurat, inferensial, dan evaluatif.
- Latih istilah teknis, makna konotatif, bahasa kias, dan citraan melalui konteks, bukan daftar hafalan.
- Biasakan murid memeriksa apakah sebuah kesimpulan benar-benar didukung teks atau hanya asumsi pribadi.
Strategi Matematika
- Pastikan operasi dasar dan manipulasi aljabar tidak menghambat penalaran.
- Setelah soal prosedural, ubah bentuknya menjadi konteks agar murid memilih sendiri model matematika.
- Latih representasi: persamaan, tabel, diagram, grafik, gambar geometri, dan kalimat verbal.
- Minta murid memperkirakan jawaban sebelum menghitung untuk membangun kemampuan estimasi.
- Gunakan soal yang memiliki lebih dari satu langkah dan meminta hubungan beberapa konsep.
- Setelah menemukan jawaban, tanyakan: “Apakah ada cara lain?” dan “Bagaimana membuktikan jawaban ini masuk akal?”
15. Panduan untuk Guru, Madrasah, dan Orang Tua
Kerangka asesmen dapat digunakan untuk memetakan penguatan pembelajaran tanpa menjadikan kelas sebagai bimbingan tes. Guru dapat menyusun asesmen diagnostik berdasarkan elemen dan kompetensi, kemudian memperbaiki bagian yang belum stabil.
Contoh siklus latihan mingguan
- Hari 1 — Diagnostik: soal singkat dari beberapa elemen untuk menemukan area lemah.
- Hari 2–3 — Penguatan: pelajari kembali konsep atau strategi membaca yang menjadi sumber kesalahan.
- Hari 4 — Aplikasi: kerjakan konteks berbeda dengan konsep sama.
- Hari 5 — Penalaran: kerjakan soal multilangkah atau evaluasi beberapa pernyataan.
- Hari 6 — Refleksi: kelompokkan kesalahan menjadi salah konsep, salah membaca, salah model, salah hitung, atau kurang teliti.
Siklus di atas adalah sintesis operasional Hosch.id, bukan jadwal resmi pemerintah. Sekolah dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan murid dan program pembelajaran.
16. Kesalahan Sistem Persiapan yang Perlu Dihindari
| Kesalahan | Mengapa kurang tepat | Perbaikan |
|---|---|---|
| Mengejar “kisi-kisi bocoran” | Kerangka resmi tidak memberi bobot atau daftar soal pasti. | Gunakan matriks resmi sebagai batas materi dan kompetensi. |
| Hanya latihan hitung cepat | Matematika juga menilai pemodelan, interpretasi, evaluasi, dan penalaran. | Tambahkan konteks, tabel, diagram, dan soal multilangkah. |
| Bahasa Indonesia hanya ide pokok | Kerangka mencakup antarteks, bahasa kias/citraan, keakuratan, dan apresiasi. | Variasikan pertanyaan tekstual, inferensial, evaluatif. |
| Menghafal pola opsi | PGK mengharuskan setiap pernyataan dinilai berdasarkan bukti. | Ajarkan verifikasi satu per satu. |
| Menganggap TKA ujian kelulusan | Kerangka resmi menyatakan TKA bukan penentu kelulusan. | Bangun persiapan akademik yang terukur tanpa tekanan yang keliru. |
17. FAQ Materi TKA SMP/MTs
Bahasa Indonesia dan Matematika. Peserta SMP/MTs/sederajat mengerjakan kedua mata uji tersebut.
Kerangka asesmen yang menjadi dasar artikel ini memfokuskan Bahasa Indonesia SMP/MTs pada keterampilan membaca.
Teks informasi dan teks fiksi. Teks informasi dapat berupa teks tunggal maupun teks jamak, sedangkan teks fiksi dapat memiliki struktur yang lebih kompleks dibanding jenjang SD/MI.
Karakteristik wacana dalam kerangka menyebut panjang sekitar 200–250 kata, kecuali teks puisi.
Empat elemen utamanya adalah bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan peluang.
Ya. Sistem persamaan linear dua variabel tercantum dalam submateri Persamaan dan Pertidaksamaan Linier pada elemen Aljabar.
Ya. Kerangka mencantumkan relasi dan fungsi beserta domain, kodomain, range dan penyajiannya, serta barisan dan deret berhingga bilangan.
Ya. Cakupan yang dinyatakan dalam kerangka adalah peluang dan frekuensi relatif dari kejadian tunggal.
Tidak. Level kognitifnya mencakup Pengetahuan dan Pemahaman, Aplikasi, serta Penalaran. Pada level penalaran, prosesnya dapat mencakup analisis, pemecahan masalah tidak rutin, evaluasi, penyimpulan, generalisasi, dan justifikasi.
Pusmendik menjelaskan bahwa soal TKA sama karena pengembangannya mempertimbangkan materi dan kompetensi yang berlaku pada kedua kurikulum.
Tidak. Kerangka asesmen menegaskan bahwa TKA bukan evaluasi untuk menentukan kelulusan murid dari satuan pendidikan.
Tidak. Semua contoh pada artikel ini dibuat oleh Hosch.id berdasarkan cakupan materi, kompetensi, dan bentuk soal dalam kerangka resmi. Contoh resmi tersedia pada dokumen dan portal TKA Pusmendik.
18. Dasar, Sumber Resmi, dan Batas Artikel
Artikel ini disusun dengan sumber utama dan sumber verifikasi resmi berikut:
- Peraturan Kepala BSKAP Nomor 047/H/AN/2025 tentang Kerangka Asesmen TKA Jenjang SD/MI/Sederajat dan SMP/MTs/Sederajat.
- Dokumen resmi Kerangka Asesmen TKA SD/MI dan SMP/MTs — Pusmendik.
- Portal resmi Tes Kemampuan Akademik — Pusat Asesmen Pendidikan.
- Kerangka Bahasa Indonesia SMP/Sederajat — Pusmendik.
- Kerangka Matematika SMP/Sederajat — Pusmendik.
- Buletin Asesmen Vol. 27 Edisi 2 Tahun 2025 — Pusat Asesmen Pendidikan.
- Portal pelaksanaan TKA 2026 — Kemendikdasmen.
Batas artikel: gunakan dokumen pemerintah terbaru apabila setelah artikel ini terbit terdapat perubahan kerangka atau petunjuk pelaksanaan. Artikel ini tidak menetapkan jumlah soal, bobot per materi, atau prediksi soal yang tidak dinyatakan oleh sumber resmi. Bagian tentang transisi penalaran, diagnosis kesalahan, jurnal kesalahan, dan strategi latihan merupakan sintesis pembelajaran Hosch.id untuk membantu penerapan kerangka, bukan ketentuan resmi pemerintah.
Kesimpulan
Materi TKA SMP/MTs menjadi lebih jelas jika dibaca melalui kerangka asesmen, bukan melalui tebakan paket soal. Bahasa Indonesia berfokus pada membaca teks informasi dan fiksi melalui pemahaman tekstual, inferensial, serta evaluasi dan apresiasi. Pada jenjang SMP/MTs, murid juga perlu siap menghadapi teks jamak, hubungan antarinformasi, bahasa kias/citraan, dan penilaian terhadap keakuratan isi.
Matematika mencakup bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan peluang. Kemampuan diuji pada level Pengetahuan dan Pemahaman, Aplikasi, dan Penalaran. Karena itu, persiapan yang paling konsisten dengan kerangka adalah memperkuat konsep, melatih perubahan representasi, membiasakan pemodelan masalah, serta meminta murid memberi alasan atas jawaban mereka.
Dengan pendekatan tersebut, guru dan murid tidak perlu bergantung pada prediksi materi “yang paling mungkin keluar”. Kerangka resmi sudah menyediakan peta yang cukup jelas: pahami batas materi, kenali kompetensi, lalu gunakan hasil latihan untuk menemukan apakah hambatannya terletak pada konsep, membaca bukti, pemodelan, representasi, operasi, atau justifikasi.
Untuk SMP/MTs, kemajuan belajar menjadi lebih terlihat ketika murid tidak hanya dapat menghasilkan jawaban, tetapi juga mampu membangun model, berpindah representasi, membandingkan informasi, dan mempertanggungjawabkan alasan. Empat kebiasaan itulah yang membuat penguatan materi berbeda dari sekadar mengulang paket soal.
Seri TKA 2026 Hosch.id
Lanjutkan ke panduan TKA lain dalam klaster ini sesuai kebutuhan peserta, sekolah, madrasah, proktor, guru, dan orang tua.
Jadwal TKA 2026 SMA/MA–SMK/MAKArtikel #2
Panduan Peserta & Administrasi TKA 2026Artikel #3
Checklist Teknis TKA 2026Artikel #4
Tugas Proktor, Teknisi, Pengawas & PenyeliaArtikel #5
Materi TKA SD/MIArtikel #7
2 Mapel Pilihan TKA SMA/MA & SNBPArtikel #8
TKA SMK/MAK: Program Keahlian & Kerangka AsesmenPanduan Teknis Hosch.id
Kumpulan panduan operasional sekolah dan madrasah.
