TKA 2026 • Materi SMP/MTs • Bahasa Indonesia & Matematika

Materi TKA SMP/MTs: Bahasa Indonesia dan Matematika, Kompetensi, Bentuk dan Contoh Soal

Apa saja yang benar-benar diukur dalam TKA SMP/MTs? Panduan ini membedah kerangka asesmen resmi Bahasa Indonesia dan Matematika: karakteristik bacaan, kompetensi, bilangan real, aljabar, geometri, data dan peluang, level kognitif, bentuk soal, contoh soal orisinal, serta strategi belajar yang selaras dengan tuntutan TKA.

Diperbarui dan diverifikasi ulang: 12 Oktober 2026 • Berdasarkan Peraturan Kepala BSKAP Nomor 047/H/AN/2025 dan kanal resmi TKA Pusat Asesmen Pendidikan
Materi TKA SMP MTs: Bahasa Indonesia dan Matematika
Ditulis dan ditelaah oleh Tim Hosch.id

Artikel ini menerjemahkan kerangka resmi TKA ke dalam panduan belajar operasional untuk murid kelas akhir SMP/MTs, guru, sekolah/madrasah, dan orang tua. Fokusnya bukan memprediksi soal, melainkan membantu pembaca memahami batas materi, perubahan tuntutan dari SD/MI ke SMP/MTs, pola penalaran, serta sumber kesalahan yang perlu diperbaiki.

Metodologi
Rujukan resmi BSKAP/Pusmendik + verifikasi kanal TKA + sintesis pembelajaran Hosch.id. Contoh soal pada artikel ini disusun orisinal untuk latihan dan bukan soal resmi pemerintah.
Ringkasan: TKA SMP/MTs/sederajat mengujikan Bahasa Indonesia dan Matematika. Bahasa Indonesia berfokus pada keterampilan membaca melalui teks informasi dan fiksi, termasuk kemampuan memahami informasi, menarik inferensi, membandingkan informasi antarteks, serta mengevaluasi dan mengapresiasi teks. Matematika mencakup bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan peluang, dengan tuntutan dari pengetahuan dan pemahaman sampai aplikasi dan penalaran.
Siapa yang paling terbantu oleh panduan ini?
  • Murid kelas akhir SMP/MTs: untuk melihat hubungan antara konsep, representasi, bukti, dan penalaran tanpa bergantung pada tebakan “materi yang pasti keluar”.
  • Guru Bahasa Indonesia/Matematika: untuk memisahkan kesalahan konsep dari kesalahan membaca, pemodelan, representasi, atau justifikasi.
  • Orang tua: untuk mendampingi ritme belajar remaja tanpa mengubah setiap sesi menjadi latihan tes berulang.
  • Sekolah/madrasah: untuk menyusun penguatan berbasis diagnosis dan refleksi, bukan hanya skor paket soal.

1. Dasar Resmi Materi TKA SMP/MTs

Rujukan utama untuk mengetahui materi TKA SMP/MTs adalah Peraturan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 047/H/AN/2025 tentang Kerangka Asesmen Tes Kemampuan Akademik Jenjang SD/MI/Sederajat dan SMP/MTs/Sederajat. Dokumen ini ditetapkan pada 24 Juli 2025 dan memuat empat bagian penting: latar belakang dan tujuan, mata uji dan jenis soal, muatan dan kompetensi yang diujikan, serta contoh soal.

Kerangka tersebut penting karena membedakan antara materi yang berada dalam cakupan TKA dan materi sekolah secara keseluruhan. Tidak semua hal yang pernah dipelajari murid otomatis menjadi muatan TKA. Sebaliknya, materi yang masuk kerangka juga tidak berarti pasti muncul dalam jumlah tertentu. Kerangka berfungsi sebagai batas dan konstruk asesmen, bukan bocoran komposisi soal.

Catatan penting: dokumen resmi tidak menetapkan persentase soal untuk setiap bab, urutan soal, atau prediksi submateri yang “pasti keluar”. Karena itu, artikel ini tidak membuat bobot buatan seperti “aljabar 30%” atau “peluang pasti 5 soal” tanpa dasar resmi.

Pusmendik juga menjelaskan bahwa soal TKA dikembangkan dengan mempertimbangkan materi dan kompetensi yang berlaku pada Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013. Artinya, murid tidak mendapat paket berbeda hanya karena kurikulum yang digunakan satuan pendidikannya berbeda.

2. TKA Bukan AN dan Bukan Penentu Kelulusan

TKA dan Asesmen Nasional (AN) perlu dibedakan sejak awal. Kanal resmi TKA Pusmendik menjelaskan bahwa TKA mengukur kompetensi mata pelajaran sesuai kurikulum, bukan literasi dan numerasi umum seperti konstruk pada AN. Walaupun demikian, soal TKA tetap menekankan kemampuan bernalar dan memecahkan masalah.

Kerangka asesmen juga menegaskan bahwa TKA bukan evaluasi untuk menentukan kelulusan murid dari satuan pendidikan. Kelulusan tetap menjadi kewenangan pendidik dan satuan pendidikan. Karena itu, persiapan TKA sebaiknya tidak mengubah pembelajaran menjadi latihan ujian semata.

TKAAsesmen terstandar untuk memperoleh informasi capaian akademik individu pada mata pelajaran yang ditetapkan.
ANAsesmen dengan tujuan dan konstruk berbeda, termasuk komponen literasi membaca, numerasi, karakter, dan lingkungan belajar sesuai ketentuannya.
Implikasi belajar: murid perlu menguasai konsep mata pelajaran sekaligus mampu menggunakan konsep itu untuk membaca situasi, menghubungkan informasi, membuat model, menilai alternatif, dan menarik kesimpulan.

3. Apa yang Berubah dari SD/MI ke SMP/MTs?

Bahasa Indonesia dan Matematika sama-sama menjadi mata uji pada SD/MI dan SMP/MTs, tetapi kerangka SMP/MTs meningkatkan kompleksitas materi dan proses berpikir. Karena itu, artikel SMP/MTs tidak tepat jika hanya menyalin daftar materi SD/MI lalu menambahkan soal yang lebih sulit.

Tabel informasi Materi TKA SMP/MTs bagian 1
AspekSD/MISMP/MTs
Bahasa IndonesiaTeks informasi berisi fakta sederhana; teks fiksi dengan struktur yang relatif lebih sederhana.Teks informasi dapat memuat fakta, konsep, atau prosedur dan dapat berupa teks tunggal maupun jamak; teks fiksi dapat memiliki konflik tunggal/jamak dan alur campuran.
Panjang wacanaDalam kerangka: sekitar 150–200 kata, kecuali puisi.Dalam kerangka: sekitar 200–250 kata, kecuali puisi.
MatematikaBilangan; geometri dan pengukuran; data.Bilangan; aljabar; geometri dan pengukuran; data dan peluang.
PenalaranMenghubungkan konsep pada cakupan SD/MI.Sudah mencakup antara lain bilangan real, SPLDV, fungsi, barisan/deret, Pythagoras, transformasi, ukuran pemusatan data, dan peluang kejadian tunggal.

Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa strategi belajar SMP/MTs harus memberi ruang lebih besar untuk membaca hubungan antarinformasi, memodelkan masalah, dan menguji alasan. Murid yang hanya terlatih mengerjakan soal rutin dapat kesulitan ketika konteks atau representasi soal berubah.

4. Jenis dan Bentuk Soal TKA SMP/MTs

Perkaban Nomor 047/H/AN/2025 mengenal soal tunggal dan soal grup. Soal tunggal berdiri sendiri. Soal grup menggunakan satu stimulus yang sama untuk beberapa pertanyaan. Dalam Bahasa Indonesia, bentuk grup sangat relevan karena satu teks atau pasangan teks dapat digunakan untuk mengukur beberapa kompetensi membaca.

Tabel informasi Materi TKA SMP/MTs bagian 2
BentukCara menjawabRisiko kesalahan
Pilihan Ganda (PG)Memilih satu jawaban benar.Murid memilih opsi yang “terlihat familiar” tanpa membuktikannya dari teks atau perhitungan.
PGK MCMADapat memiliki lebih dari satu jawaban benar; peserta memilih semua respons yang benar.Murid berhenti setelah menemukan satu jawaban benar dan tidak memeriksa opsi lain.
PGK KategoriSetiap pernyataan harus diberi kategori, misalnya Benar/Salah atau Sesuai/Tidak Sesuai.Satu pernyataan dianggap mewakili semua pernyataan, padahal masing-masing harus diuji.

Buletin Asesmen Pusmendik tentang kerangka TKA SD dan SMP juga menjelaskan bahwa pada pelaksanaan tahun pertama, Matematika menggunakan soal tunggal, sedangkan Bahasa Indonesia memuat soal grup. Informasi teknis semacam ini tetap perlu dibedakan dari cakupan bentuk soal dalam kerangka umum.

Strategi sederhana untuk PGK: perlakukan setiap pilihan sebagai pernyataan yang harus dibuktikan sendiri. Jangan menebak jumlah jawaban benar sebelum menganalisis semua opsi.

5. Materi Bahasa Indonesia TKA SMP/MTs

TKA Bahasa Indonesia SMP/MTs difokuskan pada keterampilan membaca. Fokus ini bukan berarti murid hanya diminta mencari informasi yang tertulis. Kerangka mengukur kemampuan mulai dari memahami informasi eksplisit hingga menarik inferensi, membandingkan informasi, menilai keakuratan, dan merespons unsur teks.

5.1 Teks informasi

Teks informasi dapat berisi fakta, konsep, atau prosedur dari berbagai bidang atau topik dengan skala lokal, nasional, atau global. Kerangka juga membuka penggunaan teks tunggal maupun teks jamak. Artinya, murid dapat diminta membaca dua teks lalu membandingkan isi, sudut penyajian, kelengkapan, atau keakuratan informasi.

5.2 Teks fiksi

Teks fiksi dapat berupa cerita rekaan yang bersifat faktual seperti sejarah/biografi atau realisme. Karakteristiknya dapat meliputi latar konkret maupun abstrak, tokoh berkarakter bulat, konflik tunggal atau jamak dengan penyelesaian tertutup, alur campuran, dan sudut pandang orang ketiga.

5.3 Karakteristik bahasa dan wacana

Kosakata
  • kata umum;
  • kata berimbuhan/konfiks;
  • kata abstrak;
  • makna denotatif;
  • istilah teknis;
  • makna konotatif dalam konteks tertentu.
Kalimat
  • sekitar 5–9 kata per kalimat menurut karakteristik kerangka;
  • kalimat tunggal dengan berbagai pola;
  • kalimat majemuk setara.
Wacana
  • kohesi penyulihan/substitusi;
  • konjungsi antarparagraf untuk perbandingan dan penekanan;
  • tanda baca mendukung deskripsi.
Panjang teks
  • sekitar 200–250 kata;
  • ketentuan panjang tersebut dikecualikan untuk teks puisi.
Jangan menyederhanakan Bahasa Indonesia menjadi “hafalan ide pokok”. Ide pokok hanya salah satu kemungkinan proses. Kerangka SMP/MTs juga meminta murid menilai hubungan antarinformasi, memprediksi peristiwa, menjelaskan bahasa kias/citraan, membandingkan teks, dan mengevaluasi kesesuaian atau keakuratan isi.

6. Kompetensi Bahasa Indonesia yang Diukur

Kerangka mengelompokkan keterampilan membaca menjadi tiga kompetensi besar: pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi.

Tabel informasi Materi TKA SMP/MTs bagian 3
KompetensiSubkompetensi yang dicakupContoh tuntutan berpikir
Pemahaman TekstualMengidentifikasi istilah; mengenali objek/latar berdasarkan kosakata; menemukan informasi penting tersurat; menyusun kerangka atau bagan dari bagian penting teks.“Informasi apa yang dinyatakan langsung?” atau “Bagian mana yang tepat ditempatkan pada bagan?”
Pemahaman InferensialMenyimpulkan ide pokok, gagasan pendukung, tokoh, peristiwa, latar, dan nilai; menjelaskan kelogisan hubungan antarinformasi; memprediksi peristiwa; menjelaskan bahasa kias dan citraan.“Kesimpulan apa yang paling logis dari dua informasi ini?”
Evaluasi & ApresiasiMenilai relevansi peristiwa dengan kehidupan; menilai kesesuaian/keakuratan unsur, bahasa, atau isi melalui perbandingan dalam/antarteks; menyimpulkan respons emosional terhadap unsur fiksi.“Teks mana yang lebih mendukung klaim tertentu, dan mengapa?”

Untuk guru, pembagian ini dapat dipakai sebagai alat sederhana untuk memeriksa kualitas latihan. Jika seluruh latihan hanya menanyakan “siapa, kapan, di mana”, murid hanya berlatih pada sebagian kecil pemahaman tekstual. Latihan perlu bergerak sampai inferensi dan evaluasi.

7. Peta Materi Matematika TKA SMP/MTs

TKA Matematika SMP/MTs mengukur kemampuan memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur matematika serta menerapkannya untuk menyelesaikan masalah. Kerangka resmi membaginya ke dalam empat elemen besar: bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan peluang.

7.1 Bilangan — Bilangan Real

Cakupan bilangan tidak berhenti pada operasi bilangan bulat. Bilangan dalam kerangka mencakup bilangan bulat, rasional dan irasional, bilangan berpangkat bulat, bilangan akar, serta bilangan dalam notasi ilmiah.

  • perbandingan dan sifat-sifat bilangan;
  • operasi aritmetika pada bilangan;
  • estimasi atau perkiraan hasil perhitungan;
  • faktorisasi prima bilangan asli;
  • rasio: skala, proporsi, dan laju perubahan;
  • perbandingan senilai dan berbalik nilai.

7.2 Aljabar

Aljabar menjadi pembeda besar dibanding kerangka SD/MI. Empat submateri utamanya adalah persamaan/pertidaksamaan linier, bentuk aljabar, fungsi, serta barisan dan deret.

Tabel informasi Materi TKA SMP/MTs bagian 4
SubmateriCakupan resmi
Persamaan & Pertidaksamaan LinierPersamaan linear satu variabel, pertidaksamaan linear satu variabel, dan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV).
Bentuk AljabarBentuk aljabar dan sifat operasinya, termasuk komutatif, asosiatif, dan distributif.
FungsiRelasi dan fungsi: domain, kodomain, range, serta penyajiannya.
Barisan & DeretBarisan berhingga bilangan dan deret berhingga bilangan.

7.3 Geometri dan Pengukuran

Elemen ini memadukan objek geometri, transformasi, dan pengukuran. Murid perlu memahami hubungan bentuk dan ukuran, bukan hanya menghafal rumus.

  • hubungan antarsudut dari garis berpotongan dan garis sejajar yang dipotong transversal, termasuk sudut dalam segitiga;
  • Teorema Pythagoras;
  • kekongruenan dan kesebangunan bangun datar;
  • jaring-jaring prisma, tabung, limas, dan kerucut;
  • transformasi tunggal: refleksi, translasi, rotasi, dan dilatasi terhadap titik, garis, dan bangun datar pada bidang;
  • keliling dan luas bangun datar, termasuk daerah segi banyak, lingkaran, dan gabungannya;
  • volume bangun ruang: prisma, limas, dan bola.

7.4 Data dan Peluang

Pada data, murid tidak hanya membaca diagram. Kerangka mencakup proses memperoleh, menyajikan, dan menginterpretasikan data serta menggunakan ukuran pemusatan dan penyebaran.

  • perumusan pertanyaan untuk memperoleh data, penyajian, dan interpretasi data;
  • penentuan dan penaksiran mean, median, modus, dan jangkauan;
  • perbandingan ukuran pemusatan dan penyebaran beberapa kelompok data;
  • penyajian melalui diagram batang, diagram garis, diagram lingkaran, dan tabel;
  • peluang dan frekuensi relatif dari kejadian tunggal.
Batas yang perlu dijaga: jangan memasukkan materi SMA seperti trigonometri sebagai bagian dari kerangka Matematika SMP/MTs. Kerangka SMP/MTs yang menjadi dasar artikel ini berhenti pada empat elemen di atas.

8. Tiga Level Kognitif Matematika

Materi saja belum cukup untuk memahami TKA. Soal dapat menggunakan materi yang sama tetapi menuntut proses berpikir yang berbeda. Kerangka menetapkan tiga level kognitif: Pengetahuan dan Pemahaman, Aplikasi, dan Penalaran.

Level 1Pengetahuan & PemahamanMencakup menghitung, memahami informasi, mengelompokkan, dan mengidentifikasi berdasarkan fakta, konsep, dan prinsip matematika.
Level 2AplikasiMencakup memodelkan masalah kontekstual, mengaplikasikan strategi/operasi pada situasi familiar, dan menginterpretasikan representasi atau masalah matematika.
Level 3PenalaranMencakup menganalisis, memecahkan masalah tidak rutin, mengevaluasi strategi, menyimpulkan, melakukan generalisasi, dan memberi justifikasi.

Satu materi dapat muncul pada beberapa level

Contohnya, SPLDV dapat diuji secara prosedural dengan menyelesaikan dua persamaan yang sudah diberikan. Pada level aplikasi, murid mungkin harus membentuk SPLDV dari konteks harga tiket. Pada level penalaran, murid dapat diminta menilai beberapa model atau solusi dan menentukan mana yang konsisten dengan seluruh informasi.

Prinsip latihan: jangan menganggap soal sulit selalu memakai materi yang “lebih tinggi”. Kesulitan dapat muncul karena tuntutan penalaran lebih dalam terhadap materi yang sebenarnya sudah dikenal.

9. Peta Belajar Berdasarkan Kerangka Resmi

Bagian ini adalah sintesis operasional Hosch.id dari kerangka resmi. Ini bukan pembagian bobot soal, melainkan cara mengubah daftar materi menjadi rencana belajar yang lebih terarah.

Tabel informasi Materi TKA SMP/MTs bagian 5
AreaFondasi yang perlu stabilLatihan tingkat lanjut
Bahasa IndonesiaMenemukan informasi penting, istilah, objek/latar, struktur informasi.Membandingkan antarteks, menilai keakuratan, menjelaskan hubungan gagasan, bahasa kias, dan respons emosional.
BilanganOperasi bilangan real, pangkat/akar, faktorisasi, rasio.Estimasi, skala/laju perubahan, perbandingan berbalik nilai, pemodelan konteks.
AljabarOperasi bentuk aljabar, persamaan/pertidaksamaan, SPLDV.Model dari situasi, fungsi dan representasi, pola barisan/deret, evaluasi solusi.
GeometriSudut, Pythagoras, kesebangunan, luas/volume.Bangun gabungan, transformasi, visualisasi jaring-jaring, masalah multilangkah.
Data & PeluangMembaca tabel/diagram, mean-median-modus-range, peluang dasar.Membandingkan kelompok data, menilai interpretasi, frekuensi relatif dan keputusan berdasarkan data.
1DiagnostikCari apakah kesalahan berasal dari konsep, membaca informasi, model matematika, atau ketelitian.
2Perkuat konsepUlangi bagian yang rapuh dengan soal sederhana sampai prosedur dan maknanya dipahami.
3Ubah konteksGunakan konsep sama dalam tabel, grafik, cerita, diagram, atau situasi yang berbeda.
4Minta alasanBiasakan murid menjelaskan bukti, langkah, dan mengapa opsi lain tidak tepat.

10. Transisi SMP/MTs: dari Prosedur ke Model dan Justifikasi

Bagian ini merupakan sintesis pembelajaran Hosch.id, bukan ketentuan tambahan dari pemerintah. Pada jenjang SMP/MTs, tantangan penting bukan sekadar bertambahnya jumlah materi. Murid mulai lebih sering harus berpindah dari teks atau situasi ke model, representasi, hubungan, dan alasan. Karena itu, latihan yang hanya mengulang prosedur yang sama berisiko membuat murid tampak lancar tetapi rapuh ketika bentuk soal berubah.

1. Klaim → buktiPada Bahasa Indonesia, setiap kesimpulan harus dapat ditautkan pada bagian teks, hubungan antarteks, atau ciri bahasa yang menjadi bukti.
2. Situasi → modelPada Matematika, biasakan menuliskan apa yang diketahui, apa yang dicari, variabel yang digunakan, dan hubungan antarinformasi sebelum menghitung.
3. Model → representasi lainUbah persamaan menjadi tabel/grafik, data menjadi perbandingan, atau gambar geometri menjadi hubungan ukuran agar konsep tidak bergantung pada satu bentuk.
4. Solusi → justifikasiSetelah memperoleh jawaban, periksa apakah hasil masuk akal, memenuhi seluruh syarat, dan dapat dijelaskan tanpa sekadar berkata “karena rumusnya begitu”.
Ciri latihan yang naik level: murid dapat menjelaskan mengapa sebuah model dipilih, informasi mana yang relevan, mengapa opsi lain salah, dan bagaimana ia memeriksa konsistensi jawabannya.

Contoh sederhana pada SPLDV: menyelesaikan x + y = 120 dan 12000x + 8000y = 1120000 secara mekanis adalah satu kemampuan. Menentukan bahwa dua persamaan tersebut memang mewakili jumlah tiket dan pendapatan adalah kemampuan lain. Pada TKA, keduanya sama-sama penting karena kerangka menilai penerapan pengetahuan matematika untuk menyelesaikan masalah.

11. Diagnosis Kesalahan Khas SMP/MTs: Jangan Hanya Melihat Skor

Skor latihan hanya memberi tahu berapa banyak jawaban yang benar. Untuk memperbaiki kemampuan, guru dan murid perlu mengetahui mengapa jawaban salah. Pada jenjang SMP/MTs, satu hasil salah dapat berasal dari konsep, membaca stimulus, membentuk model, berpindah representasi, operasi hitung, atau justifikasi yang tidak lengkap.

Diagnosis kesalahan umum murid SMP/MTs pada latihan TKA dan tindak lanjutnya
AreaPola kesalahanGejala yang terlihatTindak lanjut
Teks jamakMembaca dua teks secara terpisah tanpa membandingkan hubungan.Murid dapat menjawab fakta tiap teks, tetapi gagal menentukan persamaan, perbedaan, atau fungsi informasi antarteks.Gunakan tabel dua kolom: klaim Teks 1, klaim Teks 2, lalu hubungan keduanya.
Inferensi/evaluasiKesimpulan didasarkan pada opini pribadi.Alasan terdengar masuk akal tetapi tidak dapat ditunjukkan buktinya dalam stimulus.Wajibkan pola “jawaban → bukti teks → alasan hubungan”.
Bilangan/rasioKonversi satuan atau skala dilewati.Model awal benar, tetapi hasil akhir berbeda beberapa kali lipat.Tulis satuan pada setiap tahap dan lakukan estimasi kewajaran sebelum mengunci jawaban.
Aljabar/SPLDVLangsung menghitung sebelum membentuk model.Eliminasi/substitusi lancar, tetapi persamaan tidak mewakili konteks.Tetapkan arti variabel dan cek setiap persamaan terhadap kalimat masalah.
FungsiMenganggap rumus hanya ekspresi untuk dihitung.Murid dapat substitusi nilai, tetapi bingung menjelaskan arti input, output, domain, atau representasi.Latih fungsi sebagai hubungan: situasi ↔ rumus ↔ tabel ↔ grafik.
GeometriMemilih rumus dari kata kunci, bukan hubungan bentuk.Pythagoras, luas, atau volume digunakan tanpa mengecek apa yang sebenarnya dicari.Gambar ulang situasi dan tandai ukuran yang diketahui/dicari sebelum memilih konsep.
DataMean, median, modus, dan jangkauan dihitung tanpa interpretasi.Nilai statistik benar tetapi kesimpulan perbandingan kelompok keliru.Setelah menghitung, minta murid menjelaskan apa arti angka tersebut terhadap data.
PeluangFrekuensi relatif dibaca sebagai kepastian.Hasil percobaan dianggap menjamin hasil percobaan berikutnya.Bedakan hasil pengamatan, frekuensi relatif, dan pernyataan yang benar-benar dapat disimpulkan dari data.
Format jurnal kesalahan yang praktis

Catat empat hal setelah latihan: soal apa yang salah → jenis kesalahan → bukti letak kesalahan → satu tindakan perbaikan. Contoh: “SPLDV — salah model — jumlah tiket sudah benar, persamaan pendapatan salah menempatkan harga — latihan berikutnya harus menuliskan arti variabel dan satuan terlebih dahulu.”

Klasifikasi kesalahan dan jurnal di atas adalah sintesis pembelajaran Hosch.id. Fungsinya untuk membantu tindak lanjut belajar; bukan kategori penilaian resmi TKA.

12. Contoh Soal Bahasa Indonesia TKA SMP/MTs

Contoh berikut bukan soal resmi dan bukan bocoran. Seluruh stimulus dan soal dibuat oleh Hosch.id untuk menunjukkan bagaimana kompetensi dalam kerangka dapat dilatih.

Stimulus: Menjaga Air di Tengah Kota

Di sejumlah kota, permukaan tanah semakin banyak tertutup beton dan aspal. Ketika hujan turun, air yang seharusnya meresap ke tanah justru mengalir cepat menuju saluran. Jika kapasitas saluran tidak mencukupi, genangan dapat terbentuk dalam waktu singkat. Salah satu cara sederhana untuk membantu penyerapan air adalah membuat lubang resapan biopori di area yang sesuai.

Biopori merupakan lubang vertikal berdiameter relatif kecil yang dibuat pada tanah. Lubang tersebut dapat diisi bahan organik seperti daun kering. Aktivitas organisme tanah membantu membentuk rongga-rongga di sekitar lubang sehingga air lebih mudah masuk ke tanah. Bahan organik yang terurai juga dapat dimanfaatkan sebagai kompos.

Namun, biopori bukan satu-satunya solusi untuk persoalan genangan. Efektivitasnya dipengaruhi kondisi tanah, lokasi, jumlah lubang, dan pemeliharaan. Pada kawasan dengan persoalan drainase yang kompleks, pemerintah dan warga tetap perlu memperbaiki saluran, mempertahankan ruang terbuka, serta mengurangi penutupan tanah yang tidak diperlukan. Karena itu, penggunaan biopori lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari upaya pengelolaan air hujan, bukan pengganti seluruh sistem drainase.

Contoh 1 • Pemahaman Tekstual • PG

Informasi yang dinyatakan secara langsung dalam teks adalah ...

  1. biopori selalu mampu mencegah banjir di kawasan perkotaan;
  2. bahan organik di dalam biopori dapat terurai dan dimanfaatkan sebagai kompos;
  3. semua saluran drainase dapat digantikan dengan biopori;
  4. biopori hanya efektif jika dibuat pada permukaan beraspal.
Jawaban: B. Pernyataan tersebut tercantum eksplisit pada paragraf kedua. Pilihan lain bertentangan dengan isi teks.
Contoh 2 • Pemahaman Inferensial • PGK MCMA

Kesimpulan apa saja yang logis berdasarkan teks? Pilih semua jawaban yang benar.

  1. Pengelolaan air hujan di kota membutuhkan lebih dari satu pendekatan.
  2. Semakin banyak permukaan tertutup dapat mengurangi kesempatan air meresap ke tanah.
  3. Biopori pasti gagal pada semua wilayah dengan drainase kompleks.
  4. Pemeliharaan dapat memengaruhi manfaat biopori.
Jawaban: A, B, dan D. Ketiganya dapat disimpulkan dari hubungan antargagasan. Pilihan C terlalu mutlak dan tidak didukung teks.
Contoh 3 • Evaluasi • PGK Kategori

Tentukan Benar atau Salah untuk setiap penilaian terhadap isi teks.

Tabel informasi Materi TKA SMP/MTs bagian 7
PernyataanJawaban
Penulis menyajikan biopori sebagai satu-satunya cara mengatasi genangan.Salah
Paragraf ketiga memberi batasan terhadap klaim manfaat biopori.Benar
Isi teks mendukung pendekatan pengelolaan air yang menggabungkan beberapa tindakan.Benar
Penalaran: murid harus menilai posisi penulis secara utuh, bukan hanya mengambil satu kalimat tentang manfaat biopori.

Contoh teks jamak

Teks 1

Perpustakaan sekolah memperpanjang jam layanan hingga pukul 16.00 agar murid dapat membaca dan mengerjakan tugas setelah pelajaran selesai. Dalam dua bulan pertama, jumlah kunjungan sore meningkat. Pengelola kemudian menambah meja belajar dan memperbaiki pencahayaan.

Teks 2

Survei OSIS menunjukkan sebagian murid belum memanfaatkan layanan sore karena jadwal kegiatan ekstrakurikuler bertepatan dengan jam perpustakaan. Mereka mengusulkan peminjaman mandiri dan layanan pemesanan buku agar akses tidak bergantung pada waktu kunjungan langsung.

Contoh 4 • Inferensial Antarteks • PG

Hubungan informasi yang paling tepat antara kedua teks adalah ...

  1. Teks 2 membantah bahwa perpustakaan pernah memperpanjang jam layanan.
  2. Teks 1 membahas peningkatan layanan, sedangkan Teks 2 menunjukkan masih ada hambatan akses bagi sebagian murid.
  3. Kedua teks menyatakan ekstrakurikuler harus dihentikan.
  4. Teks 1 dan Teks 2 hanya membahas jumlah koleksi buku.
Jawaban: B. Murid perlu menghubungkan informasi dua teks, bukan membaca masing-masing secara terpisah.

13. Contoh Soal Matematika TKA SMP/MTs

Contoh berikut juga dibuat oleh Hosch.id. Tujuannya bukan memprediksi soal, melainkan memperlihatkan hubungan antara materi, konteks, bentuk soal, dan level kognitif.

Contoh 1 • Bilangan • Rasio/Skala • Aplikasi • PG

Pada peta berskala 1 : 250.000, jarak dua kecamatan adalah 6,4 cm. Berapa jarak sebenarnya?

  1. 1,6 km
  2. 6,4 km
  3. 16 km
  4. 160 km
Jawaban: C, 16 km. Jarak sebenarnya = 6,4 × 250.000 cm = 1.600.000 cm = 16 km. Soal menuntut rasio sekaligus konversi satuan.
Contoh 2 • Aljabar • SPLDV • Aplikasi • PGK Kategori

Sebuah pertunjukan menjual 120 tiket. Harga tiket dewasa Rp12.000 dan tiket pelajar Rp8.000. Total pendapatan Rp1.120.000. Tentukan Benar atau Salah.

Tabel informasi Materi TKA SMP/MTs bagian 8
PernyataanJawaban
Jika x = tiket dewasa dan y = tiket pelajar, maka x + y = 120.Benar
Model pendapatan dapat ditulis 12.000x + 8.000y = 1.120.000.Benar
Jumlah tiket dewasa yang terjual adalah 80.Salah
Penyelesaian: dari sistem diperoleh x = 40 dan y = 80. Fokus soal bukan hanya eliminasi/substitusi, tetapi menerjemahkan konteks menjadi model yang benar.
Contoh 3 • Aljabar • Fungsi • Pemahaman/Aplikasi • PG

Biaya mencetak poster dinyatakan dengan fungsi C(n) = 3.500n + 10.000, dengan n banyak poster. Berapa biaya untuk mencetak 12 poster?

  1. Rp42.000
  2. Rp45.500
  3. Rp52.000
  4. Rp55.000
Jawaban: C, Rp52.000. C(12) = 3.500(12) + 10.000 = 42.000 + 10.000. Murid perlu memahami arti input fungsi dalam konteks.
Contoh 4 • Geometri • Pythagoras • Penalaran • PG

Sebuah taman berbentuk persegi panjang memiliki diagonal 13 m dan lebar 5 m. Seluruh permukaan taman akan ditanami rumput. Berapa luas taman?

  1. 30 m²
  2. 60 m²
  3. 65 m²
  4. 78 m²
Jawaban: B, 60 m². Panjang taman = √(13² − 5²) = √144 = 12 m, sehingga luas = 12 × 5 = 60 m². Murid harus menghubungkan Pythagoras dengan konsep luas.
Contoh 5 • Data • Aplikasi • PGK MCMA

Data waktu membaca delapan murid dalam satu hari (menit): 6, 7, 7, 8, 8, 8, 9, 11. Pilih semua pernyataan yang benar.

  1. Rata-rata data adalah 8.
  2. Median data adalah 8.
  3. Modus data adalah 7.
  4. Jangkauan data adalah 5.
Jawaban: A, B, dan D. Jumlah data 64 sehingga mean 8; median 8; modus 8; jangkauan 11 − 6 = 5.
Contoh 6 • Peluang • Frekuensi Relatif • PGK Kategori

Dalam 50 kali percobaan, sebuah roda warna berhenti pada merah 18 kali, biru 22 kali, dan hijau 10 kali. Tentukan Benar atau Salah.

Tabel informasi Materi TKA SMP/MTs bagian 9
PernyataanJawaban
Frekuensi relatif merah adalah 0,36.Benar
Frekuensi relatif hijau adalah 0,20.Benar
Berdasarkan hasil percobaan, warna biru memiliki frekuensi relatif paling kecil.Salah
Penalaran: frekuensi relatif diperoleh dengan membagi frekuensi kejadian dengan jumlah percobaan. Murid juga perlu membandingkan hasil, bukan sekadar menghitung satu nilai.
Contoh 7 • Barisan • Penalaran • PG

Barisan 5, 9, 13, 17, ... berlanjut dengan pola yang sama. Jumlah enam suku pertamanya adalah ...

  1. 75
  2. 84
  3. 90
  4. 96
Jawaban: C, 90. Enam sukunya 5, 9, 13, 17, 21, 25. Jumlahnya 90. Latihan lanjutan dapat meminta murid menemukan strategi jumlah tanpa menuliskan semua suku.

14. Strategi Belajar TKA SMP/MTs yang Selaras dengan Kerangka

Persiapan yang efektif tidak identik dengan mengerjakan sebanyak mungkin paket soal. Kerangka resmi menunjukkan bahwa yang diukur adalah gabungan materi dan proses berpikir. Karena itu, latihan perlu dirancang untuk memperbaiki keduanya.

Strategi Bahasa Indonesia

  • Latih teks informasi dan fiksi secara bergantian.
  • Gunakan teks tunggal dan pasangan teks agar murid terbiasa membandingkan informasi.
  • Setelah menjawab, minta murid menunjukkan bagian teks yang menjadi bukti.
  • Bedakan pertanyaan tersurat, inferensial, dan evaluatif.
  • Latih istilah teknis, makna konotatif, bahasa kias, dan citraan melalui konteks, bukan daftar hafalan.
  • Biasakan murid memeriksa apakah sebuah kesimpulan benar-benar didukung teks atau hanya asumsi pribadi.

Strategi Matematika

  • Pastikan operasi dasar dan manipulasi aljabar tidak menghambat penalaran.
  • Setelah soal prosedural, ubah bentuknya menjadi konteks agar murid memilih sendiri model matematika.
  • Latih representasi: persamaan, tabel, diagram, grafik, gambar geometri, dan kalimat verbal.
  • Minta murid memperkirakan jawaban sebelum menghitung untuk membangun kemampuan estimasi.
  • Gunakan soal yang memiliki lebih dari satu langkah dan meminta hubungan beberapa konsep.
  • Setelah menemukan jawaban, tanyakan: “Apakah ada cara lain?” dan “Bagaimana membuktikan jawaban ini masuk akal?”
Ukuran kemajuan yang lebih berguna: bukan hanya persentase benar, tetapi apakah murid dapat menjelaskan kesalahan, memilih strategi yang tepat, dan menyelesaikan variasi soal dengan konsep yang sama.
Latihan representasi 3 langkah: pilih satu konsep Matematika—misalnya fungsi atau SPLDV—lalu minta murid (1) menjelaskan situasi dengan kalimat, (2) menuliskannya dalam simbol/persamaan, dan (3) menafsirkan kembali hasil ke konteks awal. Untuk Bahasa Indonesia, lakukan pola serupa: klaim → bukti teks → penilaian. Latihan ini membantu mendeteksi apakah murid benar-benar memahami hubungan, bukan hanya menghafal prosedur.

15. Panduan untuk Guru, Madrasah, dan Orang Tua

Kerangka asesmen dapat digunakan untuk memetakan penguatan pembelajaran tanpa menjadikan kelas sebagai bimbingan tes. Guru dapat menyusun asesmen diagnostik berdasarkan elemen dan kompetensi, kemudian memperbaiki bagian yang belum stabil.

Guru Bahasa IndonesiaSeimbangkan soal tekstual, inferensial, dan evaluatif. Gunakan teks jamak agar murid terbiasa membandingkan sumber informasi.
Guru MatematikaPetakan latihan berdasarkan elemen dan level kognitif. Jangan berhenti pada prosedur jika murid belum mampu memodelkan konteks.
Madrasah/SekolahGunakan hasil latihan untuk menentukan program penguatan, bukan untuk membuat prediksi nilai TKA yang tidak memiliki dasar.
Orang TuaDukung rutinitas membaca, waktu belajar, dan refleksi kesalahan. Hindari menempatkan TKA sebagai penentu kelulusan.

Contoh siklus latihan mingguan

  1. Hari 1 — Diagnostik: soal singkat dari beberapa elemen untuk menemukan area lemah.
  2. Hari 2–3 — Penguatan: pelajari kembali konsep atau strategi membaca yang menjadi sumber kesalahan.
  3. Hari 4 — Aplikasi: kerjakan konteks berbeda dengan konsep sama.
  4. Hari 5 — Penalaran: kerjakan soal multilangkah atau evaluasi beberapa pernyataan.
  5. Hari 6 — Refleksi: kelompokkan kesalahan menjadi salah konsep, salah membaca, salah model, salah hitung, atau kurang teliti.

Siklus di atas adalah sintesis operasional Hosch.id, bukan jadwal resmi pemerintah. Sekolah dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan murid dan program pembelajaran.

16. Kesalahan Sistem Persiapan yang Perlu Dihindari

Tabel informasi Materi TKA SMP/MTs bagian 10
KesalahanMengapa kurang tepatPerbaikan
Mengejar “kisi-kisi bocoran”Kerangka resmi tidak memberi bobot atau daftar soal pasti.Gunakan matriks resmi sebagai batas materi dan kompetensi.
Hanya latihan hitung cepatMatematika juga menilai pemodelan, interpretasi, evaluasi, dan penalaran.Tambahkan konteks, tabel, diagram, dan soal multilangkah.
Bahasa Indonesia hanya ide pokokKerangka mencakup antarteks, bahasa kias/citraan, keakuratan, dan apresiasi.Variasikan pertanyaan tekstual, inferensial, evaluatif.
Menghafal pola opsiPGK mengharuskan setiap pernyataan dinilai berdasarkan bukti.Ajarkan verifikasi satu per satu.
Menganggap TKA ujian kelulusanKerangka resmi menyatakan TKA bukan penentu kelulusan.Bangun persiapan akademik yang terukur tanpa tekanan yang keliru.

17. FAQ Materi TKA SMP/MTs

Apa mata pelajaran TKA SMP/MTs?

Bahasa Indonesia dan Matematika. Peserta SMP/MTs/sederajat mengerjakan kedua mata uji tersebut.

Apakah Bahasa Indonesia TKA SMP/MTs menguji menulis?

Kerangka asesmen yang menjadi dasar artikel ini memfokuskan Bahasa Indonesia SMP/MTs pada keterampilan membaca.

Apa jenis teks Bahasa Indonesia yang digunakan?

Teks informasi dan teks fiksi. Teks informasi dapat berupa teks tunggal maupun teks jamak, sedangkan teks fiksi dapat memiliki struktur yang lebih kompleks dibanding jenjang SD/MI.

Berapa panjang teks Bahasa Indonesia SMP/MTs?

Karakteristik wacana dalam kerangka menyebut panjang sekitar 200–250 kata, kecuali teks puisi.

Apa saja materi Matematika TKA SMP/MTs?

Empat elemen utamanya adalah bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan peluang.

Apakah SPLDV masuk TKA SMP/MTs?

Ya. Sistem persamaan linear dua variabel tercantum dalam submateri Persamaan dan Pertidaksamaan Linier pada elemen Aljabar.

Apakah fungsi dan barisan masuk?

Ya. Kerangka mencantumkan relasi dan fungsi beserta domain, kodomain, range dan penyajiannya, serta barisan dan deret berhingga bilangan.

Apakah peluang masuk?

Ya. Cakupan yang dinyatakan dalam kerangka adalah peluang dan frekuensi relatif dari kejadian tunggal.

Apakah TKA Matematika hanya menghitung?

Tidak. Level kognitifnya mencakup Pengetahuan dan Pemahaman, Aplikasi, serta Penalaran. Pada level penalaran, prosesnya dapat mencakup analisis, pemecahan masalah tidak rutin, evaluasi, penyimpulan, generalisasi, dan justifikasi.

Apakah soal Kurikulum Merdeka berbeda dengan Kurikulum 2013?

Pusmendik menjelaskan bahwa soal TKA sama karena pengembangannya mempertimbangkan materi dan kompetensi yang berlaku pada kedua kurikulum.

Apakah TKA menentukan kelulusan SMP/MTs?

Tidak. Kerangka asesmen menegaskan bahwa TKA bukan evaluasi untuk menentukan kelulusan murid dari satuan pendidikan.

Apakah contoh soal pada artikel ini soal resmi?

Tidak. Semua contoh pada artikel ini dibuat oleh Hosch.id berdasarkan cakupan materi, kompetensi, dan bentuk soal dalam kerangka resmi. Contoh resmi tersedia pada dokumen dan portal TKA Pusmendik.

18. Dasar, Sumber Resmi, dan Batas Artikel

Artikel ini disusun dengan sumber utama dan sumber verifikasi resmi berikut:

Batas artikel: gunakan dokumen pemerintah terbaru apabila setelah artikel ini terbit terdapat perubahan kerangka atau petunjuk pelaksanaan. Artikel ini tidak menetapkan jumlah soal, bobot per materi, atau prediksi soal yang tidak dinyatakan oleh sumber resmi. Bagian tentang transisi penalaran, diagnosis kesalahan, jurnal kesalahan, dan strategi latihan merupakan sintesis pembelajaran Hosch.id untuk membantu penerapan kerangka, bukan ketentuan resmi pemerintah.

Kesimpulan

Materi TKA SMP/MTs menjadi lebih jelas jika dibaca melalui kerangka asesmen, bukan melalui tebakan paket soal. Bahasa Indonesia berfokus pada membaca teks informasi dan fiksi melalui pemahaman tekstual, inferensial, serta evaluasi dan apresiasi. Pada jenjang SMP/MTs, murid juga perlu siap menghadapi teks jamak, hubungan antarinformasi, bahasa kias/citraan, dan penilaian terhadap keakuratan isi.

Matematika mencakup bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan peluang. Kemampuan diuji pada level Pengetahuan dan Pemahaman, Aplikasi, dan Penalaran. Karena itu, persiapan yang paling konsisten dengan kerangka adalah memperkuat konsep, melatih perubahan representasi, membiasakan pemodelan masalah, serta meminta murid memberi alasan atas jawaban mereka.

Dengan pendekatan tersebut, guru dan murid tidak perlu bergantung pada prediksi materi “yang paling mungkin keluar”. Kerangka resmi sudah menyediakan peta yang cukup jelas: pahami batas materi, kenali kompetensi, lalu gunakan hasil latihan untuk menemukan apakah hambatannya terletak pada konsep, membaca bukti, pemodelan, representasi, operasi, atau justifikasi.

Untuk SMP/MTs, kemajuan belajar menjadi lebih terlihat ketika murid tidak hanya dapat menghasilkan jawaban, tetapi juga mampu membangun model, berpindah representasi, membandingkan informasi, dan mempertanggungjawabkan alasan. Empat kebiasaan itulah yang membuat penguatan materi berbeda dari sekadar mengulang paket soal.

Seri TKA 2026 Hosch.id

Lanjutkan ke panduan TKA lain dalam klaster ini sesuai kebutuhan peserta, sekolah, madrasah, proktor, guru, dan orang tua.