TKA 2026 • Materi SD/MI • Bahasa Indonesia & Matematika

Materi TKA SD/MI: Bahasa Indonesia dan Matematika, Kompetensi, Bentuk dan Contoh Soal

Apa sebenarnya yang perlu dipelajari murid kelas akhir SD/MI untuk TKA? Artikel ini membedah kerangka asesmen resmi: materi Bahasa Indonesia dan Matematika, kompetensi yang diukur, level kognitif, bentuk soal, batas materi, contoh soal orisinal, dan strategi belajar yang lebih tepat daripada sekadar memperbanyak hafalan.

Diperbarui dan diverifikasi ulang: 12 Oktober 2026 • Berdasarkan Peraturan Kepala BSKAP Nomor 047/H/AN/2025 dan kanal resmi TKA Pusat Asesmen Pendidikan
Materi TKA SD MI: Bahasa Indonesia dan Matematika
Ditulis dan ditelaah oleh Tim Hosch.id

Artikel ini menerjemahkan kerangka resmi TKA ke dalam panduan belajar yang lebih operasional untuk murid kelas akhir SD/MI, guru, madrasah/sekolah, dan orang tua. Fokusnya bukan memprediksi soal, tetapi membantu pembaca memahami materi, kompetensi, pola kesalahan, serta cara melatih alasan di balik jawaban.

Metodologi
Rujukan resmi BSKAP/Pusmendik + verifikasi kanal TKA + sintesis pembelajaran Hosch.id. Contoh soal pada artikel ini disusun orisinal untuk latihan dan bukan soal resmi pemerintah.
Ringkasan: TKA SD/MI/sederajat mengujikan Bahasa Indonesia dan Matematika. Bahasa Indonesia berfokus pada keterampilan membaca melalui teks informasi dan teks fiksi. Matematika mencakup bilangan, geometri dan pengukuran, serta data. Soal tidak hanya menanyakan ingatan atau hitungan rutin, tetapi juga menilai kemampuan memahami, menerapkan, menyimpulkan, menilai informasi, bernalar, dan memecahkan masalah.
Siapa yang paling terbantu oleh panduan ini?
  • Murid kelas akhir SD/MI: untuk memahami apa yang perlu dikuasai tanpa menjadikan TKA sebagai sumber tekanan.
  • Guru: untuk memetakan latihan dari konsep dasar menuju inferensi, aplikasi, dan penalaran.
  • Orang tua: untuk mendampingi latihan singkat di rumah tanpa mengambil alih proses berpikir anak.
  • Sekolah/madrasah: untuk menyusun penguatan berbasis kebutuhan murid, bukan sekadar memperbanyak paket soal.

1. Dasar Resmi Materi TKA SD/MI

Rujukan utama untuk memahami materi TKA SD/MI bukan prediksi lembaga bimbingan belajar atau daftar kisi-kisi yang beredar di media sosial, melainkan Peraturan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 047/H/AN/2025 tentang Kerangka Asesmen Tes Kemampuan Akademik Jenjang SD/MI/Sederajat dan SMP/MTs/Sederajat.

Dokumen tersebut secara khusus memuat latar belakang dan tujuan, mata uji dan jenis soal, muatan dan kompetensi yang diujikan, serta contoh soal. Dengan demikian, kerangka asesmen dapat digunakan sekolah, madrasah, guru, orang tua, dan murid sebagai peta untuk memahami apa yang diukur dan bagaimana kemampuan itu dapat muncul dalam soal.

Jangan mencari “bocoran kisi-kisi” yang terlalu rinci. Kerangka resmi sudah memberi batas materi dan kompetensi, tetapi tidak menetapkan bahwa submateri tertentu pasti muncul dengan jumlah atau bobot tertentu. Karena itu, artikel ini tidak membuat persentase materi atau prediksi jumlah soal yang tidak dinyatakan dalam sumber resmi.

Kerangka tersebut juga menegaskan bahwa TKA menggunakan muatan yang merujuk pada kurikulum nasional. Kanal resmi Pusmendik menjelaskan bahwa soal TKA tidak dibedakan antara murid yang belajar dengan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 karena pengembangannya mempertimbangkan materi dan kompetensi yang berlaku pada keduanya.

2. TKA Bukan Asesmen Nasional dan Bukan Penentu Kelulusan

Sebelum membahas materi, ada dua kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Pertama, TKA tidak sama dengan Asesmen Nasional (AN). Kanal resmi Pusmendik menjelaskan bahwa TKA tidak mengukur literasi dan numerasi umum seperti AN, melainkan kompetensi mata pelajaran sesuai kerangka asesmen. Meski demikian, soal TKA tetap dapat menuntut penalaran dan pemecahan masalah.

Kedua, kerangka asesmen menegaskan bahwa TKA bukan evaluasi yang menentukan kelulusan murid dari satuan pendidikan. Penentuan kelulusan tetap menjadi kewenangan pendidik dan satuan pendidikan. Karena itu, persiapan TKA sebaiknya diposisikan sebagai penguatan kemampuan akademik, bukan sebagai latihan menghadapi “ujian kelulusan” model lama.

TKAMengukur capaian kemampuan akademik murid pada mata pelajaran tertentu secara terstandar.
ANMemiliki konstruk dan tujuan berbeda, termasuk pengukuran literasi membaca, numerasi, karakter, dan lingkungan belajar sesuai komponennya.
Implikasinya untuk belajar: murid tidak cukup hanya menghafal rumus atau mengerjakan soal mekanis. Ia perlu memahami bacaan, membaca data, menghubungkan informasi, memilih strategi, dan menjelaskan alasan di balik jawabannya.

3. Jenis dan Bentuk Soal TKA SD/MI

Perkaban Nomor 047/H/AN/2025 mengenal soal tunggal dan soal grup. Soal tunggal berdiri sendiri, sedangkan soal grup menggunakan satu stimulus yang sama untuk beberapa pertanyaan.

Tabel informasi Materi TKA SD/MI bagian 1
Bentuk soalCara menjawabHal yang perlu diperhatikan murid
Pilihan Ganda sederhanaMemilih satu jawaban benar dari pilihan yang tersedia.Jangan berhenti pada kata kunci; pastikan seluruh informasi pada soal cocok dengan pilihan.
PGK MCMA
Multiple Choice Multiple Answers
Dapat memiliki lebih dari satu jawaban benar.Nilai setiap pilihan secara mandiri. Jangan menganggap hanya satu pilihan yang harus dipilih.
PGK KategoriMemberi respons untuk setiap pernyataan, misalnya Benar/Salah atau Sesuai/Tidak Sesuai.Setiap baris adalah keputusan tersendiri. Satu pernyataan benar tidak menentukan pernyataan berikutnya.

Kerangka umum membuka penggunaan soal tunggal maupun grup. Untuk konteks pelaksanaan pertama TKA SD dan SMP pada 2026, Buletin Asesmen Pusmendik Vol. 27 Edisi 2 Tahun 2025 menjelaskan bahwa soal Matematika pada pelaksanaan tahun pertama menggunakan soal tunggal, sedangkan Bahasa Indonesia memuat soal grup. Catatan ini penting karena “jenis soal” dan “bentuk soal” bukan hal yang sama: sebuah soal tunggal tetap dapat berbentuk PG, PGK MCMA, atau PGK kategori.

4. Materi TKA Bahasa Indonesia SD/MI: Fokusnya Membaca

TKA Bahasa Indonesia SD/MI/sederajat difokuskan pada keterampilan membaca. Jadi, kerangka yang menjadi dasar artikel ini tidak menyusun materi TKA SD/MI sebagai daftar terpisah tentang ejaan, menulis karangan, berbicara, atau menyimak. Unsur kebahasaan dapat muncul sejauh diperlukan untuk memahami dan menilai teks.

Dua jenis teks yang digunakan

Teks InformasiBerisi fakta sederhana dari berbagai bidang atau topik dengan cakupan lokal dan nasional. Murid perlu menemukan, menghubungkan, menyusun kembali, dan menilai informasi di dalamnya.
Teks FiksiDapat berupa cerita fantasi atau cerita faktual seperti sejarah/biografi, dengan karakteristik yang disesuaikan untuk jenjang SD/MI.

Karakteristik teks SD/MI dalam kerangka resmi

Kerangka asesmen memberi batas karakteristik teks agar tingkat bahasa sesuai jenjang. Secara ringkas, teks SD/MI menggunakan kosakata yang relatif konkret, pola kalimat dasar, serta wacana yang tidak terlalu panjang.

  • Kosakata: mencakup kata dasar, kata berimbuhan, kata konkret, dominan bermakna denotatif, dan makna konotatif dalam konteks terbatas.
  • Kalimat: umumnya sekitar 3–7 kata per kalimat dengan pola dasar SPOK dan campuran terbatas antara struktur bahasa tulis dan bahasa lisan.
  • Wacana: menggunakan kohesi pengacuan/referensi dan konjungsi antarparagraf untuk penambahan atau penjelasan.
  • Panjang teks: kerangka menyebut sekitar 150–200 kata, kecuali teks puisi.
Makna praktisnya: persiapan Bahasa Indonesia bukan sekadar meminta murid membaca cepat. Murid perlu dilatih membaca dengan tujuan: mencari informasi eksplisit, menemukan hubungan, menarik kesimpulan, memahami ungkapan, serta menilai kesesuaian isi.

5. Tiga Kompetensi Bahasa Indonesia yang Diukur

Aspek membaca dalam TKA dikelompokkan menjadi tiga kompetensi besar: pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi. Perbedaan ketiganya penting karena dua soal yang menggunakan teks sama dapat menuntut proses berpikir yang sangat berbeda.

1. Pemahaman Tekstual
  • mengidentifikasi kosakata umum dan khusus dalam berbagai bidang;
  • mengidentifikasi objek berdasarkan kosakata dalam teks fiksi/nonfiksi;
  • menyusun kembali informasi menjadi ikhtisar atau bagan;
  • mengidentifikasi informasi yang tersurat.
2. Pemahaman Inferensial
  • menyimpulkan ide pokok dan gagasan pendukung;
  • menyimpulkan amanat, tokoh, peristiwa, atau nilai dalam teks;
  • menyimpulkan perubahan sederhana pada objek, karakter, atau latar;
  • menjelaskan makna ungkapan dalam teks.
3. Evaluasi dan Apresiasi
  • menilai relevansi peristiwa dengan kehidupan sehari-hari;
  • menilai kesesuaian antarunsur atau antarinformasi dalam teks;
  • menyimpulkan respons emosional terhadap unsur teks fiksi.
Apa yang berubah dalam latihan?
  • jangan hanya bertanya “apa isi paragraf?”;
  • tambahkan pertanyaan “apa yang dapat disimpulkan?”;
  • minta murid membuktikan jawaban dengan bagian teks;
  • latih murid menilai apakah dua informasi saling sesuai.
Urutan berpikir yang dapat dilatih: temukan informasi → hubungkan informasi → simpulkan → nilai. Pola ini lebih dekat dengan kompetensi dalam kerangka asesmen daripada latihan yang hanya mengejar banyaknya bacaan.

6. Materi TKA Matematika SD/MI: Bilangan, Geometri-Pengukuran, dan Data

TKA Matematika SD/MI mengukur kemampuan murid memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur matematika serta menerapkannya untuk menyelesaikan masalah. Konteks soal dapat berupa masalah matematika maupun situasi keseharian pada lingkup personal, keluarga, atau lingkungan sekitar.

Jangan memasukkan materi SMP ke daftar SD/MI. Kerangka SD/MI tidak mencantumkan aljabar atau peluang sebagai elemen tersendiri. Untuk SD/MI, tiga elemen resminya adalah bilangan; geometri dan pengukuran; serta data.

A. Bilangan — Bilangan Rasional

Cakupan yang disebut dalam kerangka meliputi:

  • pecahan senilai menggunakan gambar dan simbol matematika;
  • perbandingan dan pengurutan bilangan pecahan;
  • hubungan berbagai bentuk pecahan: pecahan sederhana, desimal, dan persen;
  • operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan cacah;
  • penjumlahan dan pengurangan pecahan serta perkalian/pembagian pecahan dengan bilangan asli;
  • kelipatan, faktor, KPK, dan FPB bilangan asli.

B. Geometri dan Pengukuran

Pada bagian objek geometri, murid berhadapan dengan bentuk bangun datar serta konstruksi bangun ruang dan visualisasi spasial dari bagian depan, atas, dan samping. Batasan bangun datar mencakup segitiga, segiempat, dan segi banyak; bangun ruang mencakup kubus, balok, dan gabungannya.

Pada bagian pengukuran, cakupannya lebih luas:

  • panjang dan hubungan antarsatuan baku panjang;
  • volume benda dan hubungan antarsatuan baku volume;
  • berat benda dan hubungan antarsatuan baku berat;
  • waktu dan hubungan antarsatuan waktu;
  • laju perubahan atau kecepatan;
  • keliling dan luas segitiga, segiempat, dan segi banyak;
  • volume kubus, balok, dan gabungannya;
  • besar sudut; serta
  • penaksiran ukuran.

C. Data — Penyajian dan Penggunaan Data

Untuk SD/MI, kerangka menyebut penyajian data melalui gambar, piktogram, diagram batang, dan tabel frekuensi, kemudian pengambilan informasi dan penggunaan data. Artinya, murid tidak hanya perlu mengenali bentuk diagram, tetapi juga membaca informasi, membandingkan nilai, dan menggunakan data untuk menjawab masalah.

Tabel informasi Materi TKA SD/MI bagian 2
ElemenFokus materiContoh kemampuan yang perlu dilatih
BilanganPecahan, desimal, persen, operasi cacah/pecahan, faktor, kelipatan, KPK, FPB.Mengubah bentuk bilangan, membandingkan nilai, memilih operasi, dan menyelesaikan masalah kontekstual.
GeometriBangun datar, kubus, balok, gabungan, visualisasi spasial.Mengenali sifat/bentuk, membaca tampak depan-atas-samping, dan menghubungkan bentuk dengan konstruksi.
PengukuranPanjang, volume, berat, waktu, kecepatan, keliling, luas, volume bangun, sudut, penaksiran.Mengonversi satuan, memilih ukuran yang tepat, menghitung, menaksir, dan menyelesaikan masalah.
DataGambar, piktogram, diagram batang, tabel frekuensi, penggunaan data.Mengambil informasi, membandingkan, menyimpulkan, dan memakai data untuk keputusan sederhana.

7. Matematika Tidak Hanya Menghitung: Tiga Level Kognitif

Kerangka TKA Matematika SD/MI menyebut lima kemampuan matematis: pengetahuan matematika, representasi matematis, penalaran, pemecahan masalah matematis, dan koneksi matematis. Kemampuan tersebut diukur pada tiga level kognitif.

Level 1Pengetahuan & PemahamanProsesnya antara lain menghitung, memahami informasi pada tabel/diagram/visual, mengelompokkan, dan mengidentifikasi objek menggunakan konsep matematika.
Level 2AplikasiMurid memodelkan masalah kontekstual menjadi kalimat matematika, mengaplikasikan rumus/prosedur pada masalah yang familiar, dan menginterpretasikan situasi atau representasi.
Level 3PenalaranMurid menganalisis hubungan, memecahkan masalah tidak rutin, mengevaluasi strategi/solusi, dan menarik kesimpulan yang valid dari informasi atau bukti.

Karena itu, menguasai operasi hitung tetap penting tetapi belum cukup. Murid juga harus mampu menjawab pertanyaan seperti: informasi mana yang diperlukan, model matematika apa yang tepat, apakah hasilnya masuk akal, dan apakah ada strategi lain yang lebih efisien?

Tidak ada dasar resmi untuk mengatakan “soal penalaran pasti sekian persen” dalam kerangka yang digunakan artikel ini. Sekolah sebaiknya melatih ketiga level secara seimbang sesuai materi, bukan mengejar prediksi bobot yang tidak tercantum dalam dokumen.

8. Peta Belajar TKA SD/MI Berdasarkan Kerangka Resmi

Berikut adalah sintesis operasional Hosch.id dari kerangka asesmen. Tabel ini bukan kisi-kisi tambahan dan bukan pembagian bobot soal; fungsinya membantu guru dan orang tua menerjemahkan kompetensi resmi menjadi aktivitas belajar.

Tabel informasi Materi TKA SD/MI bagian 3
AreaJangan berhenti pada...Naikkan latihan menjadi...
Membaca teks informasiMencari satu fakta yang tertulis.Mengelompokkan informasi, membuat ikhtisar, menemukan ide utama, dan menilai kesesuaian informasi.
Membaca teks fiksiMenyebut nama tokoh atau tempat.Menyimpulkan amanat, perubahan tokoh, makna ungkapan, relevansi peristiwa, dan respons emosional.
PecahanMenghitung operasi pecahan secara mekanis.Membandingkan representasi pecahan-desimal-persen dan menggunakannya dalam situasi sehari-hari.
KPK/FPBMencari KPK atau FPB dari dua angka.Menentukan kapan masalah membutuhkan KPK atau FPB dan menjelaskan alasannya.
PengukuranMenghafal tangga satuan.Memilih satuan, mengonversi, menaksir, dan memecahkan masalah panjang/berat/volume/waktu.
GeometriMenghafal rumus luas dan volume.Menganalisis bentuk gabungan, visualisasi ruang, sudut, serta hubungan ukuran dengan situasi nyata.
DataMenyebut angka tertinggi dari diagram.Membandingkan data, menghitung selisih, menggabungkan informasi, dan menarik kesimpulan yang didukung data.

9. Cara Melatih Murid SD/MI: Bertahap dari Hal Konkret ke Alasan

Bagian ini merupakan sintesis pembelajaran Hosch.id, bukan ketentuan tambahan dari pemerintah. Tujuannya menerjemahkan tuntutan kompetensi TKA menjadi pola latihan yang lebih sesuai untuk murid SD/MI: konsep dibuat terlihat, langkah dipendekkan, lalu tingkat penalaran dinaikkan secara bertahap.

1Mulai dari hal yang dapat dibayangkanGunakan benda, gambar, cerita pendek, uang, waktu, jadwal, ukuran, atau data sederhana sebelum berpindah ke simbol dan istilah yang lebih abstrak.
2Minta anak menunjukkan buktiPada bacaan, tunjukkan kalimat yang mendukung jawaban. Pada Matematika, tunjukkan angka atau informasi yang digunakan.
3Naikkan satu tingkat sajaJika anak baru stabil pada soal langsung, ubah menjadi soal dua langkah atau pertanyaan “mengapa”, bukan langsung memberi soal yang jauh lebih rumit.
4Akhiri dengan refleksi singkatTanyakan: “Apa yang membuatmu sempat salah?” dan “Apa tanda yang membantumu memilih cara yang benar?”
Ciri latihan yang baik untuk SD/MI: anak tidak hanya memperoleh skor, tetapi semakin mampu menjelaskan apa yang dibaca, mengapa sebuah operasi dipilih, dan bagaimana ia memeriksa jawabannya sendiri.
5 menit — Baca konsepSatu teks pendek atau satu konsep Matematika yang sedang diperkuat.
10 menit — KerjakanDua atau tiga soal dengan bentuk berbeda, bukan belasan soal sejenis.
10 menit — Jelaskan alasanMurid menunjukkan bukti, langkah, atau alasan mengapa pilihan lain tidak tepat.
5 menit — Catat satu kesalahanTulis satu kesalahan yang terjadi dan cara mencegahnya pada latihan berikutnya.

Durasi di atas hanyalah contoh rutinitas, bukan ketentuan resmi TKA. Sesuaikan dengan kesiapan dan kebutuhan murid.

10. Kesalahan Umum Murid SD/MI dan Cara Memperbaikinya

Pada jenjang SD/MI, nilai latihan sering tidak turun karena murid sama sekali tidak tahu materi, tetapi karena konsep belum stabil atau strategi membaca soal belum konsisten. Tabel berikut membantu membedakan kesalahan konsep dari kesalahan cara mengerjakan.

Kesalahan umum murid SD/MI pada latihan TKA dan cara memperbaikinya
AreaPola kesalahanTanda yang terlihatPerbaikan yang lebih tepat
MembacaMencari kata yang sama antara soal dan teks.Jawaban dipilih karena ada kata kunci, tetapi tidak sesuai makna seluruh kalimat.Minta murid menunjukkan kalimat bukti lalu menjelaskan hubungan bukti dengan jawabannya.
InferensiMenjawab dari pengalaman pribadi, bukan dari teks.Alasannya masuk akal secara umum tetapi tidak didukung stimulus.Gunakan pertanyaan: “Bagian mana dari teks yang membuatmu menyimpulkan itu?”
PGKMenganggap selalu hanya ada satu jawaban benar.Murid berhenti setelah menemukan satu opsi yang benar.Biasakan menilai setiap pilihan secara mandiri sebelum mengunci jawaban.
Pecahan/persenMenghafal langkah tanpa memahami nilai.Murid kesulitan ketika pecahan berubah menjadi desimal atau persen.Hubungkan gambar bagian-keseluruhan, pecahan, desimal, dan persen pada nilai yang sama.
KPK/FPBDapat menghitung, tetapi salah memilih konsep.KPK dipakai untuk masalah pembagian kelompok atau FPB untuk pertemuan siklus.Latih murid mengenali makna konteks sebelum menghitung.
PengukuranKonversi satuan dilakukan otomatis tanpa memeriksa kewajaran.Hasil sangat besar/kecil tetapi tetap diterima.Biasakan estimasi: “Seharusnya hasilnya lebih besar atau lebih kecil?”
GeometriLuas dan keliling tertukar.Rumus benar tetapi digunakan untuk pertanyaan yang berbeda.Gunakan gambar: keliling = batas, luas = bagian yang ditutupi.
DataMembaca satu angka tanpa membandingkan keseluruhan.Benar pada pertanyaan langsung, salah pada selisih atau kesimpulan.Latih membaca judul, kategori, nilai, lalu hubungan antarangka sebelum menghitung.
Untuk guru dan orang tua: jangan langsung memberi paket soal baru ketika anak salah. Identifikasi dulu jenis kesalahannya. Kesalahan konsep membutuhkan pengajaran ulang; kesalahan strategi membutuhkan latihan membaca instruksi, memilih informasi, atau memeriksa jawaban.

11. Contoh Soal TKA Bahasa Indonesia SD/MI

Catatan: contoh berikut bukan soal resmi TKA dan tidak disalin dari dokumen pemerintah. Soal dibuat oleh Hosch.id untuk memperlihatkan bagaimana kompetensi dalam kerangka resmi dapat diterjemahkan menjadi latihan.
Stimulus Grup • Teks Informasi

Kebun Kecil di Halaman Sekolah

SD Tunas Bangsa memiliki halaman sempit di samping perpustakaan. Dahulu tempat itu hanya ditumbuhi rumput. Sejak awal semester, siswa kelas enam mengubahnya menjadi kebun kecil. Mereka menanam cabai, tomat, dan kangkung dalam wadah bekas yang sudah dibersihkan.

Setiap kelompok mendapat jadwal merawat tanaman. Ada yang menyiram, mencatat pertumbuhan, dan membersihkan daun kering. Air bekas mencuci beras dari kantin ditampung untuk menyiram tanaman. Guru menjelaskan bahwa cara itu dapat mengurangi penggunaan air bersih.

Setelah beberapa minggu, sebagian tanaman dapat dipanen. Kangkung digunakan dalam kegiatan memasak, sedangkan cabai dan tomat dibagikan kepada petugas sekolah. Kebun itu tidak menghasilkan panen dalam jumlah besar. Namun, siswa belajar bahwa lahan sempit tetap dapat dimanfaatkan dengan perencanaan yang baik.

Soal 1 • PG • Pemahaman Tekstual

Apa yang dilakukan siswa untuk mengurangi penggunaan air bersih?

  1. Menyiram tanaman hanya ketika hujan.
  2. Menampung air bekas mencuci beras.
  3. Mengurangi jumlah tanaman di kebun.
  4. Memindahkan kebun ke dekat kantin.
Jawaban: B. Informasi tersebut dinyatakan secara langsung pada paragraf kedua, sehingga soal ini mengukur kemampuan menemukan informasi tersurat.
Soal 2 • PGK MCMA • Pemahaman Inferensial

Kesimpulan apa yang didukung oleh teks? Pilih semua jawaban yang benar.

  • □ Lahan sempit masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
  • □ Kebun sekolah hanya bermanfaat jika menghasilkan panen dalam jumlah besar.
  • □ Perawatan kebun dapat menjadi kegiatan belajar bersama.
  • □ Semua air bekas rumah tangga aman digunakan untuk tanaman.
Jawaban: pernyataan 1 dan 3. Keduanya dapat disimpulkan dari keseluruhan teks. Pernyataan 2 bertentangan dengan penutup teks, sedangkan pernyataan 4 terlalu luas dan tidak didukung informasi.
Soal 3 • PGK Kategori • Evaluasi

Tentukan Sesuai atau Tidak Sesuai berdasarkan isi teks.

Tabel informasi Materi TKA SD/MI bagian 4
PernyataanJawaban
Kegiatan kebun menggabungkan perawatan tanaman dan pencatatan pertumbuhan.Sesuai
Tujuan utama kebun adalah menghasilkan sayuran sebanyak-banyaknya untuk dijual.Tidak Sesuai
Penggunaan wadah bekas menunjukkan bahwa kegiatan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.Sesuai
Mengapa lebih sulit? Murid harus menilai setiap pernyataan terhadap keseluruhan informasi, bukan sekadar menemukan satu kata yang sama dalam teks.

12. Contoh Soal TKA Matematika SD/MI

Contoh Matematika berikut dibuat sebagai soal tunggal, sejalan dengan catatan Pusmendik mengenai pelaksanaan tahun pertama. Bentuk respons tetap divariasikan agar murid terbiasa dengan PG, PGK MCMA, dan PGK kategori.

Contoh 1 • Bilangan • Aplikasi • PG

Perpustakaan menerima 240 buku. Sebanyak 25% merupakan buku cerita. Berapa buku cerita yang diterima?

  1. 40 buku
  2. 50 buku
  3. 60 buku
  4. 80 buku
Jawaban: C, 60 buku. Murid perlu memahami bahwa 25% = 1/4, kemudian menentukan 1/4 dari 240. Soal menghubungkan persen dengan pecahan dan situasi kontekstual.
Contoh 2 • Bilangan • Penalaran • PG

Dua lampu berkedip secara teratur. Lampu A berkedip setiap 6 detik dan lampu B setiap 8 detik. Keduanya berkedip bersama pada pukul 09.00.00. Kapan keduanya pertama kali berkedip bersama lagi?

  1. 09.00.12
  2. 09.00.14
  3. 09.00.24
  4. 09.00.48
Jawaban: C. Masalah meminta waktu pertemuan siklus, sehingga digunakan KPK dari 6 dan 8, yaitu 24. Yang diuji bukan hanya kemampuan menghitung KPK, tetapi mengenali bahwa konteks tersebut membutuhkan KPK.
Contoh 3 • Pengukuran • PGK MCMA

Sebuah wadah berisi 2,5 liter air. Pilih semua pernyataan yang benar.

  • □ Volume air sama dengan 2.500 ml.
  • □ Jika digunakan 750 ml, tersisa 1,75 liter.
  • □ Volume awal air kurang dari 2.000 ml.
  • □ Menambah 500 ml membuat volume menjadi 3 liter.
Jawaban: pernyataan 1, 2, dan 4. Soal menguji hubungan liter–mililiter sekaligus kemampuan menggunakan hasil konversi dalam beberapa keputusan.
Contoh 4 • Geometri • Penalaran • PG

Sebuah lantai berbentuk persegi panjang berukuran 8 m × 6 m. Di salah satu sudut terdapat area persegi 2 m × 2 m yang tidak akan dipasang karpet. Berapa luas lantai yang dipasang karpet?

  1. 40 m²
  2. 44 m²
  3. 46 m²
  4. 48 m²
Jawaban: B, 44 m². Luas seluruh lantai 48 m², dikurangi area 4 m². Murid harus menghubungkan dua bangun dan menentukan operasi yang tepat.
Contoh 5 • Data • PGK Kategori

Jumlah buku yang dipinjam dari perpustakaan selama empat hari adalah: Senin 24, Selasa 30, Rabu 18, Kamis 36. Tentukan Benar atau Salah.

Tabel informasi Materi TKA SD/MI bagian 5
PernyataanJawaban
Peminjaman terbanyak terjadi pada Kamis.Benar
Selisih peminjaman Selasa dan Rabu adalah 12 buku.Benar
Jumlah peminjaman Senin dan Rabu lebih banyak daripada Selasa dan Kamis.Salah
Penalaran: murid harus membaca data, melakukan perbandingan dan operasi sederhana, lalu menilai setiap pernyataan secara terpisah.

13. Strategi Belajar TKA SD/MI yang Selaras dengan Kerangka

Karena TKA mengukur lebih dari hafalan, persiapan yang efektif sebaiknya tidak dimulai dari “berapa paket soal yang harus diselesaikan”, tetapi dari kemampuan apa yang belum stabil. Berikut sintesis operasional yang dapat digunakan sebagai pola latihan.

1Kuasai konsep dasarPastikan operasi hitung, pecahan, satuan, bangun, data, dan pemahaman bacaan dasar tidak rapuh.
2Ubah representasiLatih pecahan–desimal–persen, teks–bagan, tabel–kesimpulan, dan situasi–model matematika.
3Latih alasanSetelah menjawab, minta murid menjelaskan mengapa jawaban benar dan mengapa pilihan lain tidak tepat.
4Variasikan konteksGunakan masalah personal, keluarga, sekolah, dan lingkungan agar konsep tidak hanya dikenali pada satu pola soal.

Untuk Bahasa Indonesia

  • Gunakan teks informasi dan fiksi secara bergantian.
  • Setelah membaca, tanyakan satu soal tersurat, satu inferensial, dan satu evaluatif.
  • Minta murid menunjukkan kalimat/bagian teks yang mendukung jawabannya.
  • Latih makna ungkapan dari konteks, bukan hanya menghafal daftar idiom.
  • Gunakan bagan sederhana atau ikhtisar untuk menyusun kembali informasi.

Untuk Matematika

  • Setelah latihan prosedural, berikan masalah yang meminta murid memilih sendiri operasi atau rumus.
  • Latih konversi satuan dalam situasi nyata, bukan hanya tangga satuan.
  • Gunakan diagram/tabel lalu ajukan pertanyaan yang membutuhkan dua langkah.
  • Untuk KPK/FPB, fokuskan pada kapan masing-masing konsep digunakan.
  • Biasakan melakukan estimasi untuk memeriksa apakah hasil perhitungan masuk akal.
Prinsip sederhana: satu soal yang dibahas sampai murid memahami alasan sering lebih bernilai daripada sepuluh soal yang hanya dicocokkan dengan kunci.

Gunakan catatan kesalahan, bukan hanya catatan skor

Untuk murid SD/MI, satu lembar kecil “kesalahan yang pernah saya buat” dapat lebih berguna daripada mengejar jumlah paket. Catat secara sederhana: jenis soal, penyebab salah, dan tanda yang harus diperhatikan lain kali. Misalnya: “Saya salah karena tidak membaca kata semua jawaban yang benar” atau “Saya memakai FPB padahal masalahnya mencari waktu bertemu lagi.”

Tujuan akhirnya bukan membuat anak takut salah. Kesalahan dipakai sebagai informasi untuk menentukan latihan berikutnya: apakah perlu mengulang konsep, membaca instruksi lebih teliti, atau melatih penalaran.

14. Panduan untuk Guru, Madrasah, dan Orang Tua

Kerangka asesmen dapat digunakan sebagai alat diagnosis pembelajaran. Sekolah tidak perlu mengubah seluruh pembelajaran menjadi latihan tes. Yang lebih penting adalah memastikan kompetensi yang memang berada dalam kurikulum dipahami secara mendalam dan dapat diterapkan dalam konteks baru.

Guru kelas/mapelPetakan latihan berdasarkan elemen dan kompetensi, bukan hanya berdasarkan nomor paket soal.
Madrasah/sekolahGunakan asesmen diagnostik sederhana untuk melihat area yang perlu penguatan tanpa membuat prediksi nilai yang tidak berdasar.
Orang tuaDampingi rutinitas membaca dan pemecahan masalah sehari-hari; hindari tekanan bahwa TKA adalah penentu kelulusan.
MuridBiasakan membaca instruksi sampai tuntas, terutama pada PGK yang dapat memiliki lebih dari satu jawaban benar.

Contoh program latihan 4 tahap

  1. Diagnostik: berikan soal singkat untuk melihat apakah masalah utama ada pada konsep, membaca instruksi, atau penalaran.
  2. Penguatan: ulangi konsep yang lemah dengan contoh sederhana.
  3. Aplikasi: pindahkan konsep ke konteks baru atau bentuk representasi berbeda.
  4. Refleksi: minta murid menjelaskan kesalahan dan strategi yang seharusnya digunakan.
Hindari dua ekstrem: hanya mengulang materi tanpa latihan bentuk soal, atau sebaliknya hanya mengerjakan paket soal tanpa memperbaiki konsep. Kerangka TKA justru menghubungkan materi + kompetensi + proses berpikir.

Batas pendampingan orang tua yang sehat

LakukanBacakan instruksi bila anak benar-benar kesulitan memahami kalimat, lalu minta anak menjelaskan kembali dengan bahasanya sendiri.
HindariMemberi petunjuk yang langsung mengarah ke jawaban hanya agar skor latihan terlihat tinggi.
LakukanTanyakan proses: “Informasi apa yang kamu pakai?” atau “Mengapa memilih cara itu?”
HindariMembandingkan kecepatan atau nilai anak dengan teman sebagai ukuran utama kesiapan TKA.

Untuk sekolah dan madrasah, pola yang sama berlaku: hasil latihan lebih bermanfaat bila dipakai untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran daripada sekadar dipajang sebagai peringkat.

15. FAQ Materi TKA SD/MI

Apa mata pelajaran TKA SD/MI?

Bahasa Indonesia dan Matematika. Peserta TKA SD/MI/sederajat mengerjakan kedua mata uji tersebut.

Apakah Bahasa Indonesia TKA SD/MI menguji menulis?

Kerangka asesmen yang menjadi dasar artikel ini memfokuskan TKA Bahasa Indonesia SD/MI pada keterampilan membaca. Materinya menggunakan teks informasi dan teks fiksi.

Apa saja materi Matematika TKA SD/MI?

Tiga elemen utamanya adalah bilangan, geometri dan pengukuran, serta data. Rincian resminya mencakup antara lain pecahan, operasi bilangan, KPK/FPB, bangun datar/ruang, satuan dan pengukuran, kecepatan, keliling/luas/volume, sudut, penaksiran, serta penyajian dan penggunaan data.

Apakah ada aljabar dan peluang pada TKA SD/MI?

Tidak sebagai elemen yang tercantum dalam matriks SD/MI pada Perkaban 047/H/AN/2025. Aljabar serta data dan peluang muncul pada kerangka Matematika SMP/MTs, bukan pada daftar elemen SD/MI.

Apakah soal TKA hanya pilihan ganda satu jawaban?

Tidak. Kerangka mengenal pilihan ganda sederhana, PGK MCMA yang dapat memiliki lebih dari satu jawaban benar, dan PGK kategori yang meminta respons terhadap setiap pernyataan.

Apakah TKA sama dengan tes literasi dan numerasi AN?

Tidak. Pusmendik menjelaskan TKA mengukur kompetensi mata pelajaran sesuai kurikulum, bukan literasi/numerasi umum seperti AN, walaupun soal TKA tetap dapat menuntut penalaran dan pemecahan masalah.

Apakah soal Kurikulum Merdeka berbeda dengan Kurikulum 2013?

Kanal resmi TKA menjelaskan bahwa soal TKA sama karena dikembangkan dengan mempertimbangkan materi dan kompetensi yang berlaku pada Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013.

Apakah TKA menentukan kelulusan SD/MI?

Tidak. Kerangka asesmen menegaskan bahwa TKA bukan evaluasi untuk menentukan kelulusan. Kelulusan tetap menjadi kewenangan pendidik dan satuan pendidikan.

Apakah contoh soal di artikel ini merupakan soal resmi?

Tidak. Contoh di artikel ini dibuat oleh Hosch.id berdasarkan cakupan materi, kompetensi, dan bentuk soal dalam kerangka resmi. Untuk contoh resmi, gunakan dokumen dan laman TKA Pusmendik.

16. Dasar, Sumber Resmi, dan Batas Artikel

Artikel ini disusun dengan sumber utama dan sumber verifikasi resmi berikut. Fakta tentang mata uji, muatan, kompetensi, bentuk soal, dan karakteristik asesmen merujuk pada sumber resmi. Bagian seperti peta belajar, pola kesalahan, rutinitas latihan, dan strategi pendampingan merupakan sintesis operasional Hosch.id untuk membantu penerapan di SD/MI.

Jika pemerintah menerbitkan perubahan kerangka asesmen atau petunjuk pelaksanaan setelah artikel ini terbit, gunakan dokumen resmi terbaru sebagai acuan. Artikel ini tidak menetapkan bobot materi, jumlah soal per elemen, atau prediksi soal yang tidak dinyatakan oleh sumber resmi.

Kesimpulan

Materi TKA SD/MI sebenarnya lebih mudah dipetakan ketika kerangka resminya dibaca secara utuh. Bahasa Indonesia berfokus pada membaca teks informasi dan fiksi melalui pemahaman tekstual, inferensial, serta evaluasi dan apresiasi. Matematika mencakup bilangan, geometri dan pengukuran, serta data dengan tuntutan berpikir dari pemahaman sampai penalaran.

Karena itu, persiapan terbaik bukan menebak soal apa yang akan keluar. Untuk jenjang SD/MI, latihan sebaiknya dibuat bertahap: mulai dari hal yang konkret dan dapat dibayangkan, pindahkan ke gambar/teks/tabel atau simbol, lalu minta murid menjelaskan alasan di balik jawabannya. Sekolah, madrasah, guru, dan orang tua dapat menggunakan kesalahan anak sebagai petunjuk untuk menentukan penguatan berikutnya—bukan sekadar menambah jumlah soal.

Dengan pendekatan tersebut, artikel ini sengaja menempatkan TKA sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai tujuan belajar itu sendiri. Kerangka resmi tetap menjadi batas faktual; contoh soal, peta belajar, analisis kesalahan, dan strategi pendampingan di atas berfungsi sebagai alat bantu untuk menerjemahkan kerangka itu ke praktik sehari-hari.

Seri TKA 2026 Hosch.id

Lanjutkan ke panduan TKA lain dalam klaster ini sesuai kebutuhan peserta, sekolah, madrasah, proktor, guru, dan orang tua.